Teller memegang mata uang Dolar AS dan Rupiah di sebuah tempat penukaran uang, Jakarta, Rabu (6/7/2022). Kurs Rupiah ditutup Rp14.999 per Dolar AS pada perdagangan Rabu (6/7) hari ini, melemah 0,03 persen ketimbang posisi penutupan perdagangan kemarin (5/7) pada Rp 14.994 per dolar AS.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (29/1/2026), bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 16.752 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.722 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan rupiah berpotensi menguat seiring isu intervensi pemerintah AS terhadap independensi Federal Reserve (The Fed). “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp 16.700–Rp 16.750, dipengaruhi oleh berlanjutnya tren pelemahan indeks dolar global dan keputusan The Fed untuk menahan suku bunga acuan di level 3,5 persen sesuai prediksi. Independensi The Fed masih terus membayangi dan menimbulkan ketidakpastian,” katanya di Jakarta, Kamis.
Mengutip Anadolu, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah pada kisaran 3,5–3,75 persen. Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bank sentral akan mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga setelah harga-harga mengalami penurunan.
Di sisi lain, The Fed juga menghadapi tekanan karena Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook, akan disidang pada bulan ini terkait tuduhan Presiden AS Donald Trump yang menudingnya melakukan penipuan hipotek.
Powell menyampaikan bahwa independensi bank sentral merupakan hal penting bagi demokrasi modern dan berfungsi sebagai penghalang terhadap politisasi kebijakan moneter.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul keterbukaan Trump terkait manajemen di The Fed, termasuk kritik yang berulang kali disampaikan kepada Powell dan rekan-rekannya, pernyataan mengenai nominasi Ketua The Fed selanjutnya, serta keyakinan bahwa presiden harus dikonsultasikan dalam pengambilan keputusan suku bunga.
“Dari domestik, penguatan rupiah akan terbatas akibat arus dana keluar di pasar modal menyusul penurunan peringkat investment Indonesia oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International),” ungkap Rully.
sumber : Antara

2 hours ago
4














































