
Oleh: Abdullah Sammy, pemerhati sepak bola/eks jurnalis olahraga Republika
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah Anda membayangkan Lionel Messi yang tadinya diagungkan layaknya titisan dewa, mendadak berubah wujud menjadi pesakitan sosial dalam hitungan hari? Itulah yang dibedah secara tajam oleh akun pengamat pola percakapan, @Therosieum.
Pada 2022, kurva sentimen positif Messi berada di puncak menara gading. Ia hidup dalam fase adoration alias pemujaan mutlak. Namun, masuk ke 2026, grafik itu terjun bebas.
Mayoritas sentimen berubah haluan, mencap sang megabintang sebagai villain alias penjahat lapangan hijau.
Bagaimana mungkin reputasi seorang ikon global yang portofolionya terdokumentasi lengkap di jutaan video YouTube bisa dihancurkan begitu saja? Jawabannya bukan di atas rumput hijau, melainkan di dalam pabrik narasi digital.
Pembalikan citra Messi tidak lahir secara organik. Ia dirancang menggunakan teori klasik Walter Lippmann (1922) dalam Public Opinion: bahwa opini publik tidak pernah benar-benar tentang realitas objektif, melainkan tentang "gambar yang dibentuk di kepala orang lain."
Selama ini, citra tentang Messi dipelihara dalam bingkai intangible. Sebuah anugerah ilahi, bakat alam, titisan malaikat sepak bola yang nyaris tanpa cela.
Berbeda kontras dengan rival abadi, Cristiano Ronaldo, yang sejak awal dicitrakan secara tangible sebagai pemain bertubuh atletis, rupawan, namun memuat beragam kefanaannya seperti arogan, emosional, dan egois. Tapi Ronaldo dicitrakan mampu meraih prestasinya karena ambisi dan kerja keras di tempat latihan.
Ketika seseorang dicitrakan begitu sempurna seperti dewa, di situlah letak titik rapuh seorang Messi. Karena manusia selalu punya cacat. Dan sisi cacat itu diorkestrasi habis di Piala Dunia 2026.
Ada pattern yang tampak dari operasi penghancuran Messi. Yang pertama adalah fakta yang disajikan sepotong-sepotong. Tindakan Messi menginjak kaki pemain Aljazair yang luput dari kartu merah wasit disambungkan dengan kompilasi pelanggaran masa lalunya yang juga sesekali kerap melakukan tendangan, tekel, atau trik keras ke pemain lawan. Narasi "Messi anak emas FIFA" pun dilempar seiring dengan peristiwa itu dan menjadi wacana atau percakapan dari mulut ke mulut.
Tahap kedua fase percakapan dari mulut itu bisa sampai ke otak hingga hati karena dicampur dengan sentimen emosional di luar sepak bola. Wacana Messi dan Argentina anak emas FIFA lantas disuntik bahan bakar emosional tingkat tinggi pasca Argentina secara kontroversial menekuk Mesir di babak 16 besar.
Labelisasi Argentina = Israel digoreng habis-habisan berkat momen provokasi bendera Israel yang dikibarkan pendukung Argentina saat memprovokasi pelatih Mesir Hossam Hassan. Ini ditambah pula penggalan video lama soal dukungan terbuka PM Benjamin Netanyahu pada Argentina.
Fase terakhir melibatkan AI. Sisa-sisa kewarasan publik disapu bersih oleh gelombang konten provokasi yang di-generate oleh Artificial Intelligence. Hanya butuh hitungan detik untuk memproduksi jutaan video yang melabeli Messi curang, dibekingi FIFA, dan bersekutu dengan kepentingan politik Israel.
Hasilnya? Messi jungkir balik dari pahlawan menjadi setan di mata publik netral. Sisi "keilahian" dalam branding lamanya berbalik menghukumnya dengan kejam. Ini sama seperti skandal moral yang menimpa seorang pemuka agama yang hukuman sosialnya selalu berlipat ganda dibanding manusia biasa.
Di sinilah letak perbedaan fundamental antara strategi personal branding Messi dan Cristiano Ronaldo.
Ronaldo tidak pernah mencoba menjadi malaikat. Sejak hari pertama, ia merangkul statusnya sebagai manusia biasa dengan segala sisi buruk dan baiknya. Ronaldo dengan sengaja memperlakukan cinta dan kebencian publik sebagai bahan bakar (fuel). Ia menari di atas kontroversi, menjadikan pro dan kontra sebagai fondasi agar namanya abadi di puncak arus percakapan.
Era algoritma hari ini tidak peduli apakah Anda dicintai atau dibenci; algoritma hanya peduli pada seberapa besar atensi yang Anda sedot. Pengguna media sosial dengan daya tahan terkuat bukanlah mereka yang sibuk mencari validasi positif, melainkan mereka yang tahan banting mengelola polarisasi.
Data dokumentasi karier Messi yang membentang dari masa muda hingga tua memang autentik. Namun, di era perang informasi, fakta objektif bisa dibakar habis oleh narasi yang digiring keluar lapangan.
Para pendukung setia Argentina dan Lionel Messi yang babak belur diterpa badai sentimen negatif di Piala Dunia 2026 hingga kini sibuk menyapu badai sentimen. Badai yang sejatinya tak akan pernah berakhir. Hal yang sejak hari pertama disadari dan dinikmati Ronaldo dan tim.
Pada akhirnya memberi validasi diri atas segala sentimen kerap menjadi upaya yang sia-sia. Seperti petuah abadi dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib: "Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu."
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
5

















































