REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Uni Eropa mengesahkan paket sanksi ke-21 terhadap Rusia dengan menyasar bank, bursa saham, jaringan mata uang kripto, kilang minyak, industri militer, hingga puluhan kapal yang dituding menjadi bagian dari armada bayangan Moskow. Namun, di balik perluasan hukuman tersebut, Brussel memberikan pengecualian yang memungkinkan perusahaan Eropa tetap mengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Rusia ke negara ketiga.
Dewan Uni Eropa mengadopsi paket terbaru itu pada Kamis (23/7/2026). Sanksi tersebut mencakup 218 penetapan baru yang terdiri atas 48 individu dan 170 entitas. Jumlah itu menjadi gelombang penetapan individu dan badan hukum terbesar yang dilakukan Uni Eropa dalam empat tahun terakhir.
Namun, media internasional melaporkan paket tersebut juga memberikan pengecualian selama satu tahun, dengan kemungkinan perpanjangan otomatis, bagi perusahaan Uni Eropa yang memindahkan atau mengangkut LNG Rusia menuju negara di luar blok tersebut. Konsesi diberikan setelah Yunani menuntut perubahan terhadap pembatasan yang sebelumnya telah disepakati.
Pengecualian itu tidak berarti Uni Eropa membatalkan larangan impor LNG Rusia. Mulai 1 Januari 2027, LNG Rusia tetap dilarang masuk ke pasar Uni Eropa. Perusahaan Eropa hanya memperoleh ruang untuk terlibat dalam pengangkutan kargo Rusia menuju pembeli di negara ketiga.
Le Monde melaporkan volume LNG yang diangkut melalui pengecualian tersebut tidak boleh melampaui tingkat pengiriman pada 2025. Konsesi itu berlaku bukan hanya bagi perusahaan Yunani, tetapi juga operator Eropa lain yang memiliki keterikatan kontrak dengan proyek LNG Rusia.
Kompromi tersebut memperlihatkan batas yang semakin tipis antara upaya Uni Eropa menekan pendapatan energi Rusia dan keinginan negara-negara anggotanya melindungi kepentingan industri nasional. Brussel ingin mengurangi pemasukan Moskow yang dinilai menopang perang di Ukraina, tetapi pada saat yang sama tidak ingin aktivitas bisnis strategis beralih seluruhnya kepada perusahaan non-Eropa.
Yunani Ancam Hambat Paket Sanksi
Yunani menjadi penentang utama terhadap rencana pelarangan jasa pengangkutan LNG Rusia menuju negara ketiga. Karena penerapan sanksi Uni Eropa membutuhkan persetujuan bulat seluruh negara anggota, keberatan Athena memiliki kekuatan untuk menghambat keseluruhan paket.
Pemerintah Yunani berargumen larangan terhadap operator Eropa tidak akan menghentikan ekspor ataupun mengurangi pendapatan Rusia. Menurut Athena, bisnis itu hanya akan beralih kepada perusahaan pelayaran dari China, Jepang, Amerika Serikat, atau negara lain di luar Uni Eropa.
Seorang pejabat Yunani mengatakan kepada Reuters bahwa sanksi seharusnya dirancang untuk memaksimalkan tekanan terhadap Moskow tanpa menciptakan kerugian yang tidak disengaja bagi perusahaan, konsumen, serta daya saing Eropa. Athena menilai Uni Eropa tidak semestinya menyerahkan satu sektor bisnis kepada pesaing global akibat kebijakannya sendiri.
Kepentingan Yunani dalam persoalan ini tidak kecil. Negara tersebut mendominasi pasar kapal pengangkut LNG di Eropa dan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, bersaing dengan operator dari Jepang, China, dan Amerika Serikat.
Salah satu perusahaan yang berkepentingan adalah Dynagas, operator pelayaran LNG Yunani yang memiliki kapal tanker kelas es. Kapal-kapal khusus itu digunakan untuk melayani proyek Yamal LNG di kawasan Arktik Rusia dan dirancang agar mampu beroperasi dalam kondisi perairan yang tertutup es.
Athena berpendapat pengakhiran kontrak terhadap kapal khusus tersebut tidak serta-merta menghentikan perdagangan LNG Rusia. Kapal dan keahlian operasionalnya justru berisiko berpindah kepada perusahaan non-Barat yang kemudian tetap melanjutkan pengangkutan gas Rusia.
Menurut Le Monde, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis siap menghambat paket sanksi ke-21 apabila kepentingan tersebut tidak diakomodasi. Uni Eropa kemudian memilih memberikan pengecualian agar pembatasan terhadap sektor perbankan, energi, kripto, serta industri militer Rusia tetap dapat diberlakukan.
Seorang diplomat Uni Eropa mengatakan kepada Reuters bahwa negara-negara anggota telah menunjukkan solidaritas kepada Yunani. Athena kemudian diharapkan menunjukkan sikap yang sama ketika kepentingan negara anggota lain menghadapi risiko dalam perundingan sanksi berikutnya.
TotalEnergies Masih Raup Pendapatan dari LNG Rusia
Kompromi LNG juga berkaitan dengan kepentingan sejumlah perusahaan energi besar Eropa. TotalEnergies asal Prancis, misalnya, memiliki saham langsung sebesar 20 persen di proyek Yamal LNG dan kepemilikan 19,4 persen di Novatek, perusahaan Rusia yang menjadi pemegang saham mayoritas proyek tersebut.
Kepala Eksekutif TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan perusahaan memperoleh rata-rata sekitar 400 juta dolar AS per tahun dari penjualan kargo LNG yang berasal dari fasilitas Yamal. Besarnya pendapatan berfluktuasi karena kontrak penjualannya berkaitan dengan harga minyak Brent.

1 hour ago
6

















































