REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada momen di setiap Lebaran yang sulit dijelaskan namun mudah dirasakan. Ketika pintu rumah terbuka dan seseorang yang sudah lama pergi, entah merantau ke kota lain, entah tenggelam dalam kesibukan yang tak berkesudahan, akhirnya melangkah masuk dan duduk kembali di antara orang-orang yang paling mengenalnya. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Tidak ada wajah terbaik yang perlu ditampilkan. Di sana, di ruang yang penuh aroma masakan dan tawa yang tak ditata, seseorang bisa menjadi dirinya sendiri lagi.
Itulah yang terjadi setiap tahun, di jutaan rumah, di seluruh penjuru negeri. Dan ternyata, apa yang selama ini kita anggap sebagai tradisi semata menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kebiasaan sosial.
Silaturahim Lebaran, jika dilihat hanya dari permukaannya, tampak seperti agenda rutin: mengunjungi sanak saudara, bersalaman, makan bersama, lalu pulang. Namun jika diamati lebih dalam, ia adalah sebuah mekanisme pemulihan yang bekerja secara halus namun efektif, menyentuh lapisan-lapisan dalam diri manusia yang tak terjangkau oleh notifikasi pesan instan atau panggilan video secanggih apa pun.
Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, merumuskannya dengan jelas: keluarga sebagai unit terkecil masyarakat adalah fondasi dari ketahanan nasional itu sendiri. "Jika keluarga bahagia, masyarakat sejahtera, maka negara juga akan kuat dan memiliki kohesi nasional yang semakin kokoh," katanya.
Pernyataan itu terdengar seperti jargon kebijakan, namun sesungguhnya ia berakar pada kebenaran yang paling sederhana: bahwa manusia tidak bisa terus memberi jika tangkinya kosong. Dan silaturahim, dalam banyak hal, adalah cara paling tua dan paling efektif untuk mengisinya kembali.
Yang tak Bisa Dilakukan oleh Teknologi
Kita hidup di era di mana jarak tampaknya tidak lagi menjadi hambatan. Video call bisa menampilkan wajah orang yang kita sayangi dalam hitungan detik. Pesan suara bisa menyampaikan rindu lintas benua. Namun ada sesuatu yang tetap tidak bisa disalin oleh semua itu: kehadiran fisik yang sesungguhnya.
Dr Octaviani Indrasari Ranakusuma, dosen psikologi dari Universitas YARSI, menjelaskan bahwa pertemuan fisik dalam silaturahim memicu pelepasan hormon oksitosin, hormon yang membangun rasa aman, kepercayaan, dan kedekatan emosional. Tepukan bangga di pundak dari seorang kakek.
Pelukan panjang dari ibu yang sudah berbulan-bulan tidak berjumpa. Tawa yang pecah bersama karena lelucon lama yang tetap lucu. Semua itu bukan sekadar momen yang menyenangkan, ia adalah proses biologis dan psikologis yang nyata, yang membangun fondasi bagi resiliensi seseorang dalam menghadapi tekanan hidup.
sumber : Antara

6 hours ago
8
















































