Selain Naiknya Harga Energi, Dampak Penutupan Selat Hormuz Pengaruhi Pangan Dunia

4 hours ago 5

Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Menyusul operasi militer gabungan Israel-AS yang menargetkan beberapa lokasi di Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026 dan serangan balasan Iran di seluruh wilayah tersebut, banyak kapal berlabuh karena Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, tempat ratusan kapal pengangkut minyak melintas setiap hari, yang berpotensi memengaruhi perdagangan dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Krisis militer di Selat Hormuz kini berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Penutupan jalur perairan yang mendistribusikan energi, logam hingga pangan dunia ini mulai memunculkan efek domino, dari lonjakan bahan bakar minyak (BBM) hingga krisis pupuk pertanian.

Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Senin menegaskan bahwa selat tersebut kini "tertutup". IRGC memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melintas akan "dibakar". Sebagai respons, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal tanker dan menawarkan asuransi risiko politik bagi perusahaan pelayaran di kawasan Teluk.

Selat Hormuz mengalirkan 25 persen perdagangan minyak maritim dunia dan 20 persen pengiriman gas alam cair (LNG). Tersumbatnya jalur sempit itu diprediksi akan mengerek harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik jika blokade berlangsung lama. Hakan Kaya, manajer portofolio senior di Neuberger Berman, memperingatkan bahwa penutupan penuh selama lebih dari sebulan dapat mendorong harga minyak mentah mencapai angka tiga digit (di atas 100 dolar AS per barel).

"Skala taruhannya sangat besar," ujar Kaya. Dampaknya tidak hanya terasa di pompa bensin, tetapi juga pada lonjakan harga bahan bakar jet yang akan membuat biaya perjalanan udara semakin mahal. Meski AS saat ini merupakan produsen minyak terbesar dunia dan tidak sebergantung pada Iran seperti pada krisis 1979, guncangan pasar global tetap tidak terhindarkan.

Krisis pupuk mengancam

Menurut Axious, Dampak yang paling mengkhawatirkan justru muncul dari sektor pangan. Menurut firma analisis perdagangan Kpler, sekitar 33 persen pasokan pupuk dunia, termasuk sulfur dan amonia, melintasi Selat Hormuz.

Veronica Nigh, ekonom senior di Fertilizer Institute, mengungkapkan bahwa hampir 30 persen produksi amonia global dan 50 persen urea kini berada dalam risiko tinggi akibat konflik ini.

Hal tersebut diprediksi akan berdampak mengingat Arab Saudi memasok sekitar 40 persen dari total impor fosfat AS, yang merupakan bahan utama pupuk.

Sementara itu, Kelangkaan pupuk akan memukul petani tanaman pangan besar seperti jagung, kedelai, gandum, dan kapas.

Read Entire Article
Politics | | | |