REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kegagalan membangun startup bukanlah akhir dari segalanya. Bagi banyak mahasiswa, kegagalan justru menjadi titik balik untuk belajar, berkembang, dan menciptakan bisnis lebih matang.
Di tengah meningkatnya minat kewirausahaan di kalangan generasi muda, kemampuan bangkit dari kegagalan menjadi kunci penting menuju kesuksesan.
Fenomena startup mahasiswa yang gagal di tahap awal masih kerap terjadi.
Penyebabnya beragam, mulai dari minimnya validasi pasar, lemahnya manajemen tim, hingga keterbatasan pendanaan. Namun, para founder muda yang berhasil umumnya memiliki satu kesamaan: mereka tidak berhenti saat menghadapi kegagalan.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) terus mendorong mahasiswa membangun mental kewirausahaan yang tangguh melalui pembinaan startup berkelanjutan.
Kepala Nusa Mandiri Startup Center (NSC), Siti Nurlela menegaskan, kegagalan bagian wajar dalam proses membangun bisnis rintisan.
“Kegagalan, fase yang sangat wajar dalam perjalanan membangun startup. Hal terpenting bukan seberapa sering gagal tetapi bagaimana mahasiswa mampu bangkit, belajar, dan menciptakan inovasi lebih baik,” ujarnya yang dikutip Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, langkah pertama bangkit dari kegagalan adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap model bisnis yang dijalankan, mulai dari produk, strategi pemasaran, hingga struktur tim.
Mahasiswa juga didorong terbuka terhadap masukan dari mentor, dosen, maupun sesama founder agar mampu melihat blind spot yang selama ini luput dari perhatian.
Selain evaluasi, ketahanan diri menjadi fondasi utama bagi calon entrepreneur muda. Sebab, dunia startup penuh tekanan, ketidakpastian, dan perubahan pasar yang cepat.
“Startup bukan hanya soal ide bagus, tetapi tentang kemampuan beradaptasi, ketahanan mental, dan keberanian memperbaiki strategi saat menghadapi kegagalan,” tambah Siti.
Dalam mendukung proses ini, NSC hadir sebagai wadah pembinaan startup mahasiswa di lingkungan UNM. NSC memberi mentoring, pelatihan, hingga akses jejaring industri dan investor guna membantu mahasiswa mengembangkan startup yang siap bersaing.
Melalui berbagai program pendampingan, mahasiswa dibimbing untuk menyusun ulang strategi bisnis lebih terukur, termasuk melalui riset pasar lebih mendalam, pengujian produk dengan metode Minimum Viable Product (MVP), serta penguatan struktur tim.
Dengan pendekatan ini, UNM sebagai Kampus Digital Bisnis terus memperkuat komitmen mencetak founder muda tangguh, adaptif, dan siap menghadapi dinamika dunia startup. Bagi mahasiswa kegagalan bukan lagi akhir perjalanan, melainkan bagian penting dari proses menuju bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan.

6 hours ago
9

















































