Student Corner Perpustakaan Cyber University menjadi ruang kolaborasi yang didesain khusus untuk memicu ide-ide inovatif mahasiswa.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Membangun budaya baca bukan sekadar perlombaan statistik atau rutinitas seremoni tahunan, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk membuka jendela dunia dan membebaskan pikiran dari belenggu ketidaktahuan. Literasi yang sesungguhnya tumbuh ketika buku tak lagi hanya dipajang di rak yang berdebu, tetapi menjadi denyut nadi dalam setiap percakapan dan solusi atas berbagai persoalan hidup.
Indeks literasi Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar karena sering kali menempatkan negara kita pada posisi bawah dalam berbagai survei internasional. Meskipun kemampuan teknis membaca masyarakat sudah tinggi, tingkat kegemaran membaca dan kedalaman pemahaman terhadap isi bacaan masih perlu dipacu. Hal ini menciptakan kesenjangan antara kemudahan akses informasi digital dengan kualitas literasi yang kritis dan analitis.
Di sisi lain, data dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menunjukkan tren positif dalam peningkatan aksesibilitas melalui digitalisasi, namun hal tersebut belum sepenuhnya merata hingga ke pelosok daerah. Indeks literasi nasional saat ini sedang diupayakan untuk bergeser dari sekadar "melek huruf" menjadi "literasi produktif", di mana masyarakat mampu mengolah informasi menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial.
Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Joko Santoso, menegaskan bahwa gerakan literasi tidak boleh hanya ramai saat selebrasi. "Harus ada praktik langsung yang menyasar seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga," ujarnya di Gedung Perpusnas, Jakarta, Rabu (28/1). Menurutnya, potensi Indonesia sangat besar dengan adanya 219 ribu perpustakaan, di mana mayoritas adalah perpustakaan sekolah yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran berbasis membaca.
Jika keluarga ingin anak-anaknya terbiasa membaca, langkah pertama yang paling krusial adalah keteladanan orang tua. Anak adalah peniru yang ulung; jika mereka sering melihat orang tuanya asyik membaca buku daripada sekadar menatap layar gawai, maka secara alami mereka akan melihat membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan berharga untuk ditiru.
Kedua, ciptakanlah aksesibilitas yang mudah terhadap buku di dalam rumah. Tidak perlu perpustakaan mewah, cukup dengan menyediakan pojok baca yang nyaman atau meletakkan buku-buku menarik di tempat yang mudah dijangkau anak. Kehadiran fisik buku di lingkungan terdekat akan merangsang rasa ingin tahu anak untuk mulai membuka dan membalik setiap halamannya.
Ketiga, jadikan kegiatan membaca sebagai ritual harian yang interaktif, misalnya melalui tradisi mendongeng sebelum tidur. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi tentang alur cerita atau karakter dalam buku, sehingga membaca tidak terasa seperti tugas sekolah yang membosankan, melainkan momen bonding keluarga yang penuh kehangatan dan imajinasi.
sumber : Antara

2 hours ago
3














































