Trump Kembali Ancam Segera Serang Iran

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Setelah sempat mereda, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan ancamannya terhadap Iran. Jika sebelumnya ancaman serangan terkait unjuk rasa di Iran, kali ini Trump memakai dalih perjanjian nuklir.

Donald Trump mengatakan kepada Teheran bahwa waktu hampir habis dan armada besar AS bergerak cepat menuju negara tersebut “dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar”. Melalui media sosial, presiden AS mengatakan pada Rabu bahwa armada yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln lebih besar daripada yang dikirim ke Venezuela sebelum penyingkiran Nicolás Maduro awal bulan ini dan “siap untuk segera memenuhi misinya dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan”. 

“Mudah-mudahan Iran akan segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata – TANPA SENJATA NUKLIR – yang baik bagi semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar penting!” tulis Trump lewat akun medsos Truth Social-nya.

Kepemilikan senjata nuklir Iran sejak lama dipermasalahkan Barat. Meskipun, Iran adalah negara penandatangan proliferasi nuklir dan fatwa ayatullah terdahulu melarang senjata pemusnah massal itu. Iran hingga saat ini mengeklaim tak sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, menurut pihak AS, negara tersebut telah berhasil memerkaya uranium yang selangkah lagi bisa dijadikan bom nuklir.

Iran sedianya telah bersedia ke meja perundingan, bahkan menyepakati kesepakatan dengan AS dan Eropa dengan imbalan pencabutan sebagian sanksi ekonomi pada 2015. Justru Trump pada pemerintahan pertamanya yang menarik AS keluar dari perjanjian nuklir tersebut.

Belakangan, kemampuan nuklir Iran kembali jadi sorotan seturut genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir, Israel bakal jadi sasaran dengan kelakukan seperti saat ini. Pada Juni 2023 lalu, rudal-rudal Iran berhasil mencapai Tel Aviv sebagai balasan atas serangan negara Zionis. 

Proyektil dari Iran menghantam Tel Aviv, Israel, Sabtu dini hari, 14 Juni 2025.

AS akhirnya turun tangan mengebom tiga situs nuklir Iran. Bagaimanapun, belakangan kemampuan nuklir Iran menurut AS masih mengancam. Ancaman Trump kali ini agaknya mengonfirmasi kemampuan tersebut.

“Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUAT KESEPAKATAN! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah 'Operasi Midnight Hammer', sebuah kehancuran besar di Iran. Serangan selanjutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai hal itu terjadi lagi.” 

Ini merupakan indikasi paling jelas dari Trump bahwa ia bermaksud melancarkan serangan militer dalam waktu dekat jika Iran menolak untuk menegosiasikan kesepakatan mengenai masa depan program nuklirnya. Postingan tersebut juga mencerminkan perubahan luar biasa dalam alasan Gedung Putih untuk mengirimkan kelompok tempur kapal induk ke wilayah tersebut, beralih dari kemarahan atas kematian para pengunjuk rasa ke nasib program nuklir Teheran. 

Trump mendesak warga Iran untuk terus melakukan protes awal bulan ini, dengan mengatakan kepada mereka “bantuan sedang dikirim”, namun ia kemudian menarik kembali alasan bahwa “pembunuhan telah berhenti”. 

Ada spekulasi bahwa ia sebenarnya menahan diri karena tidak memiliki cukup aset militer di wilayah tersebut, negara-negara Teluk telah mendesak untuk menahan diri dan Israel telah menyarankan bahwa mereka memerlukan lebih banyak waktu untuk bersiap menghadapi kemungkinan pembalasan dari Iran.

Read Entire Article
Politics | | | |