Wamenkeu Tegaskan Kredit Ultra Mikro untuk Bantu Masyarakat, Bukan Komersial

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, SURAKARTA — Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bunga pembiayaan Ultra Mikro (UMi) dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) tidak boleh mendekati bunga perbankan. Skema ini memang dirancang sebagai pembiayaan murah untuk membantu pelaku usaha kecil, bukan pembiayaan komersial.

“Kalau ditambah boleh-boleh saja, tetapi kita berharap jangan sampai setinggi bunga bank, karena kalau tidak ya meminjam ke bank saja,” ujar Suahasil saat memberikan sambutan dalam kunjungan kerja di kegiatan bertajuk “Peran Kementerian Keuangan dalam Peningkatan Kualitas Permukiman dan Pemberdayaan Masyarakat”, di Kota Surakarta, Kamis (12/2/2026).

Suahasil menjelaskan, bunga PIP kepada lembaga penyalur berkisar 2 hingga 4 persen, lebih rendah dibanding kredit perbankan. Ia memahami lembaga penyalur membutuhkan biaya untuk pendampingan debitur, sehingga tambahan bunga masih dimungkinkan asalkan tetap rendah. “Bunganya murah karena tujuannya membantu masyarakat, bukan bunga komersial,” tegasnya.

Di Solo, jumlah debitur UMi tercatat sekitar 25 ribu orang. Menurut Suahasil, angka ini masih relatif kecil untuk kota seukuran Solo. “Untuk kaliber kota sebesar Surakarta, terlalu kecil menurut saya 25 ribu itu,” ucapnya. Ia mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM aktif mengidentifikasi pelaku usaha yang layak dibiayai agar pembiayaan tepat sasaran dan lebih banyak pelaku usaha mikro terbantu.

Direktur Utama PIP Ismed Saputra menyampaikan, penyaluran UMi di Solo mencapai sekitar Rp105 miliar melalui tujuh lembaga penyalur untuk total 25 ribu debitur. PIP tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga mendorong pemberdayaan agar usaha debitur berkembang.

Selain UMi, Kemenkeu melalui special mission vehicle (SMV) memperkuat penataan kawasan permukiman. PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) untuk peningkatan kualitas hunian warga di kawasan Sangkrah, Solo.

Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan, program pengembangan kawasan kumuh di Solo telah dilakukan dua tahap. Pada 2022, 47 rumah direnovasi, lalu pada 2025 dibangun dan direnovasi 56 unit rumah layak huni bagi 56 kepala keluarga dengan nilai hampir Rp5 miliar. Dari total tersebut, SMF berkontribusi pada 37 unit. Secara keseluruhan, SMF telah membangun 84 unit rumah melalui program CSR di Solo.

Program ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak mampu mengangsur kredit perumahan. Sinergi pembiayaan murah UMi dan perbaikan hunian menjadi langkah nyata memperkuat ekonomi warga sekaligus meningkatkan kualitas hidup.

Bagi masyarakat kecil, akses kredit terjangkau dan hunian layak menjadi fondasi untuk keluar dari jerat pinjaman mahal serta mengembangkan usaha yang lebih berkelanjutan.

Read Entire Article
Politics | | | |