REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Semangat untuk hidup sehat melalui olahraga kini telah menjadi gaya hidup yang menjamur di kalangan masyarakat urban, tak terkecuali para wanita. Namun, di balik euforia kebugaran, tersimpan sebuah risiko tersembunyi yang seringkali luput dari perhatian: cedera lutut. Ironisnya, studi dan data klinis menunjukkan bahwa wanita memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap cedera ini dibandingkan pria.
Isu penting ini diangkat oleh Dr dr Aditya Fuad Robby Triangga, SpOT, SubspPL(K), seorang dokter spesialis ortopedi dari Yogyakarta. Menurutnya, kesadaran akan risiko ini masih rendah, padahal dampaknya bisa sangat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup dalam jangka panjang. Lantas, mengapa wanita lebih rentan, dan bagaimana cara memitigasi risiko tersebut?
Faktor Anatomi dan Hormonal yang Tak Bisa Diabaikan
dr Robby menjelaskan bahwa kerentanan wanita bukanlah mitos, melainkan sebuah fakta medis yang didasari oleh perbedaan biologis. Setidaknya ada dua faktor utama yang berperan: anatomi dan hormonal. Secara anatomi, wanita cenderung memiliki panggul yang lebih lebar, yang mengakibatkan sudut antara tulang paha dan tulang kering (dikenal sebagai Q-angle) menjadi lebih besar. Sudut ini memberikan tekanan ekstra pada sendi lutut, terutama saat melakukan gerakan memutar atau melompat.
“Selain itu, faktor hormonal juga sangat berpengaruh. Hormon estrogen diketahui dapat membuat ligamen menjadi lebih longgar atau elastis pada waktu-waktu tertentu dalam siklus menstruasi. Kondisi ini membuat stabilitas sendi lutut sedikit berkurang, sehingga risiko cedera, terutama pada ligamen krusiatum anterior (ACL), menjadi lebih tinggi," kata dr Robby Triangga.
Pencegahan: Kunci Utama Lutut Sehat
Mengetahui risiko tersebut bukan berarti wanita harus berhenti berolahraga. Justru sebaliknya, pengetahuan ini harus menjadi bekal untuk berolahraga dengan lebih cerdas dan aman. Dr. Robby menekankan bahwa kunci utamanya terletak pada pencegahan yang komprehensif, yang dimulai bahkan sebelum aktivitas fisik itu sendiri.
"Pencegahan adalah investasi terbaik untuk sendi kita. Jangan pernah meremehkan tiga tahap emas: pemanasan, latihan inti, dan pendinginan," katanya.
Pemanasan yang benar, lanjutnya, mempersiapkan otot dan sendi untuk aktivitas yang lebih berat. Sementara itu, latihan penguatan otot di sekitar paha dan panggul berfungsi sebagai ‘sabuk pengaman’ alami bagi lutut. Terakhir, pendinginan membantu mengembalikan otot ke kondisi rileks dan mengurangi risiko nyeri pasca-latihan. Dengan langkah-langkah sederhana namun disiplin ini, para wanita dapat terus aktif meraih kebugaran tanpa harus mengorbankan kesehatan lutut mereka

3 hours ago
4















































