REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan menyimpulkan gelombang panas yang melanda Eropa, Amerika Serikat (AS), dan sejumlah wilayah lain di dunia dalam beberapa tahun terakhir tidak akan terjadi tanpa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Dalam tinjauan terbarunya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia.
WHO memperingatkan gelombang panas yang terjadi pada musim panas tahun ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan hingga kematian. Dalam tinjauannya mengenai panas ekstrem dan kesehatan, WHO menyebut gelombang panas sering memicu keadaan darurat kesehatan. Selain itu, panas ekstrem juga berdampak pada sektor ekonomi dan sosial, seperti menurunkan produktivitas serta mengurangi kemampuan masyarakat untuk bekerja.
"Gelombang panas juga dapat membebani kapasitas layanan kesehatan. Pemadaman listrik selama gelombang panas akan mengganggu layanan kesehatan, transportasi, dan infrastruktur air," kata WHO dalam tinjauannya, Selasa (14/7/2026).
WHO menyebut lansia sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampak gelombang panas. Suhu yang sangat tinggi dapat memperburuk berbagai penyakit tidak menular yang banyak diderita kelompok usia lanjut, seperti penyakit pernapasan, jantung, diabetes, demensia, serta gangguan mata dan tulang.
Menurut WHO, banyak kota di dunia belum dirancang untuk mengurangi dampak panas ekstrem. Berkurangnya ruang terbuka hijau akibat pembangunan yang masif serta penggunaan material bangunan yang menyerap panas, seperti atap berbahan baja, membuat masyarakat semakin rentan terhadap suhu tinggi. Karena itu, WHO mengingatkan sektor kesehatan agar beradaptasi menghadapi meningkatnya kejadian gelombang panas.
"Petugas kesehatan dan masyarakat masih kurang menyadari besarnya risiko kesehatan akibat panas ekstrem. Tenaga kesehatan perlu menyesuaikan pedoman, perencanaan, dan intervensi terhadap paparan panas, sekaligus mengantisipasi lonjakan pasien selama gelombang panas," kata WHO.
WHO menegaskan berbagai langkah sederhana, murah, dan mudah diterapkan oleh individu, komunitas, organisasi, maupun pemerintah dapat menyelamatkan banyak nyawa. Panas ekstrem dapat memengaruhi kesehatan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kelompok yang bekerja di luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, pedagang kaki lima, petani, dan pekerja lapangan lainnya, termasuk yang paling berisiko terpapar panas ekstrem.
WHO menjelaskan ada beberapa kondisi yang membuat panas menjadi berbahaya bagi tubuh. Pertama, ketika tubuh tidak mampu melepaskan panas hasil metabolisme karena lingkungan yang terlalu panas atau lembap. Kedua, penggunaan pakaian yang menghambat pelepasan panas tubuh. Ketiga, lonjakan suhu lingkungan yang terjadi secara ekstrem.
Ketika tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhunya sendiri, risiko kelelahan akibat panas dan heatstroke atau sengatan panas akan meningkat. Upaya tubuh untuk terus mendinginkan diri juga memberikan beban tambahan pada jantung dan ginjal. Akibatnya, gelombang panas dapat memperburuk penyakit kronis, seperti penyakit jantung, gangguan pernapasan, diabetes, hingga meningkatkan risiko gagal ginjal.
"Kematian dan rawat inap akibat cuaca panas ekstrem dapat terjadi dengan sangat cepat, bahkan pada hari yang sama atau beberapa hari setelahnya. Karena itu, tindakan pencegahan harus segera dilakukan ketika peringatan gelombang panas dikeluarkan," kata WHO.

12 hours ago
8

















































