REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bumi kini menyerap lebih banyak panas daripada yang dilepaskan. Kondisi ini meningkatkan risiko suhu global kembali mencetak rekor dalam waktu dekat.
Fenomena ini dipicu akumulasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida yang memerangkap panas di atmosfer. Dampaknya terlihat dari laut yang terus menghangat dan es kutub yang kian mencair.
WMO mencatat ketidakseimbangan energi mencapai level tertinggi pada tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan panas yang masuk dari Matahari lebih besar dibandingkan yang dipantulkan kembali ke luar angkasa.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, situasi ini harus direspons cepat melalui transisi energi. “Planet bumi didorong keluar batasnya, setiap indikator penting iklim sudah menunjukkan tanda bahaya,” kata Guterres seperti dikutip dari BBC, Selasa (24/3/2026).
Ia menekankan perlunya peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan untuk menjaga stabilitas iklim dan keamanan global. Data WMO menunjukkan 11 tahun terakhir menjadi periode terpanas sejak pencatatan suhu dimulai pada 1850. Suhu global pada 2025 tercatat sekitar 1,43 derajat Celsius di atas masa pra-industri.
La Nina sempat menahan kenaikan suhu pada 2025, namun tahun tersebut tetap masuk tiga besar terpanas sepanjang sejarah. Para ilmuwan memperkirakan kemunculan El Nino berikutnya akan kembali mendorong lonjakan suhu global.
“Jika kita beralih ke El Niño, kita akan melihat peningkatan suhu global lagi, dan berpotensi mencetak rekor baru,” kata John Kennedy.
WMO menilai laju pemanasan global kini semakin cepat. Meski begitu, tingkat suhu saat ini masih berada dalam proyeksi ilmiah jangka panjang.
Lebih dari 90 persen panas berlebih diserap oleh lautan. Kondisi ini memicu kerusakan ekosistem laut, meningkatkan intensitas badai, serta mempercepat kenaikan permukaan laut.
WMO mencatat panas laut hingga kedalaman 2 kilometer mencapai rekor tertinggi tahun lalu. Dalam dua dekade terakhir, laju pemanasan laut bahkan meningkat dua kali lipat dibanding akhir abad ke-20.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan, aktivitas manusia menjadi faktor utama gangguan sistem iklim. “Aktivitas manusia semakin mengganggu keseimbangan alami dan kita akan hidup dengan konsekuensi ini selama ratusan hingga ribuan tahun,” kata Saulo.
Kadar karbon dioksida saat ini disebut berada di level tertinggi dalam lebih dari dua juta tahun. Kondisi ini memperkuat tren pemanasan global yang terus berlanjut.
Dampak perubahan iklim juga terlihat dari meningkatnya cuaca ekstrem dan penyebaran penyakit. Gelombang panas ekstrem di barat daya Amerika Serikat bahkan mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, jauh di atas rata-rata.
Analisis ilmuwan menunjukkan kondisi panas ekstrem tersebut hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
WMO memperkirakan El Nino berpotensi terbentuk pada paruh kedua 2026. Fenomena ini dapat mendorong suhu global lebih tinggi hingga 2027.

3 hours ago
6
















































