AI Jadi Alat Perebutan Kuasa Dunia, Analis Bongkar Ketidaknetralannya

2 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di ruang rapat perusahaan multinasional, di forum teknologi Moskow, hingga di meja Dewan Keamanan PBB, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi dibicarakan sebagai sekadar inovasi.

Ia telah melampaui statusnya sebagai teknologi, menjelma menjadi infrastruktur baru yang diam-diam membentuk ulang cara dunia bekerja, mengambil keputusan, dan bahkan menentukan apa yang dianggap sebagai kebenaran.

Di titik inilah perdebatan tentang AI tidak lagi sederhana. Dunia bisnis melihatnya sebagai mesin produktivitas, negara memaknainya sebagai instrumen kedaulatan, sementara para analis keamanan membacanya sebagai alat baru dalam perang informasi.

Ketiganya berbicara tentang objek yang sama, tetapi dengan kepentingan yang berbeda, dan justru di situlah AI menemukan posisinya sebagai arena baru perebutan kekuasaan global.

AI dan Janji Produktivitas yang Belum Tuntas

Dalam tulisan Gleb Tsipursky di The Hill, AI digambarkan sebagai teknologi dengan janji besar yang belum sepenuhnya terwujud. Dunia korporasi, menurutnya, tengah berada dalam fase transisi, antara ekspektasi tinggi dan realitas penggunaan yang masih terbatas. “Ekspektasi sudah tinggi, tetapi kebiasaan masih tertinggal,” tulisnya.

Tsipursky menunjukkan adanya kesenjangan antara optimisme para eksekutif dan pengalaman sehari-hari para pekerja. AI diproyeksikan akan meningkatkan produktivitas secara signifikan, namun dampak nyata yang dirasakan perusahaan sejauh ini masih relatif kecil.

Ia juga menyoroti perubahan tenaga kerja yang tidak bersifat dramatis, melainkan gradual. “Perubahan tenaga kerja dapat terjadi sebagai serangkaian posisi yang tidak pernah diisi kembali, bukan sebagai satu peristiwa dramatis,” tulisnya.

Dari perspektif ini, AI tidak hadir sebagai gelombang disruptif yang tiba-tiba, tetapi sebagai proses evolusi yang perlahan mengubah struktur kerja.

Namun, justru dalam proses yang tampak perlahan itu, tersimpan perubahan yang lebih mendasar. AI mulai menggeser cara organisasi memaknai kerja, dari sekadar efisiensi operasional menuju pengambilan keputusan berbasis data yang lebih presisi.

Dalam konteks ini, peran manusia tidak sepenuhnya tergantikan, melainkan mengalami reposisi, dari pelaksana tugas rutin menjadi pengelola, pengarah, dan penafsir hasil kerja mesin.

Read Entire Article
Politics | | | |