Gedung Putih Bela Trump yang Dikritik Usai Terima FIFA Peace Prize

2 hours ago 7

Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi FIFA Peace Prize kepada Presiden AS Donald Trump di Washington, DC, Desember 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih membela keputusan pemberian penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Presiden AS Donald Trump. Mereka menegaskan, tidak ada sosok yang lebih layak menerima penghargaan tersebut meski kritik terus bermunculan dari berbagai pihak.

Penghargaan yang diberikan oleh FIFA pada pengundian Piala Dunia Desember lalu itu menuai polemik. Trump dinilai berjasa dalam “mempromosikan perdamaian dan persatuan dunia”. Namun, sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pelaku sepak bola menilai keputusan tersebut tidak tepat.

Gedung Putih merespons kritik tersebut dengan menonjolkan kebijakan luar negeri Trump yang disebut sebagai “Perdamaian melalui Kekuatan”. Mereka mengklaim kebijakan itu berhasil mengakhiri sejumlah konflik internasional dalam waktu singkat.

“Tidak ada orang lain di dunia yang lebih layak menerima Hadiah Perdamaian edisi pertama dari FIFA selain Presiden Trump,” kata juru bicara Gedung Putih Davis Ingle dalam pernyataannya dikutip Reuters, Rabu (29/4/2026).

Meski demikian, gelombang kritik terus berdatangan. Gelandang tim nasional Australia, Jackson Irvine, menyebut penghargaan tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap kebijakan hak asasi manusia FIFA. Ia menilai keputusan itu bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dikampanyekan sepak bola sebagai pemersatu.

Penolakan juga datang dari Federasi Sepak Bola Norwegia. Presidennya, Lise Klaveness, bahkan meminta FIFA menghapus penghargaan tersebut karena dinilai berpotensi menyeret organisasi ke ranah politik yang tidak semestinya.

Kontroversi semakin menguat setelah kebijakan militer Amerika Serikat pascapenghargaan itu disorot publik. Langkah-langkah tersebut dianggap bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang menjadi dasar pemberian penghargaan.

FIFA sendiri memperkenalkan penghargaan ini pada 2025 sebagai bentuk apresiasi terhadap individu yang dinilai berkontribusi besar dalam menciptakan perdamaian dan persatuan global. Namun sejak awal, keputusan memberikan penghargaan pertama kepada Trump sudah memicu perdebatan luas di kalangan publik dan komunitas sepak bola.

Polemik ini menjadi sorotan menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Di tengah semangat “football unites the world”, kontroversi tersebut justru menimbulkan pertanyaan besar tentang netralitas FIFA dalam menjaga nilai-nilai olahraga.

Read Entire Article
Politics | | | |