Banjir di Kaki Gunung Slamet Bawa Gelondongan Kayu, Walhi Soroti Deforestasi Akibat Tambang

2 hours ago 2

Aktivitas tambang di Gunung Slamet, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Banjir yang melanda beberapa kabupaten di kaki Gunung Slamet, seperti di Kabupaten Pemalang, Tegal, dan Purbalingga, membawa gelondongan kayu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah (Jateng) menilai, hal itu menjadi tanda adanya deforestasi di kawasan Gunung Slamet. 

Staf Kajian dan Pengelolaan Pengetahuan Walhi Jateng, Bagas Kurniawan, mengungkapkan, bencana banjir bandang yang melanda Sumatera pada Desember 2025 lalu membuka mata publik tentang parahnya deforestasi di sana. Kala itu, tumpukan gelondongan kayu ikut terbawa arus. 

Menurutnya, kondisi lingkungan di Jateng, khususnya di sekitar kawasan Gunung Slamet, juga tidak baik-baik saja. "Banyak sekali aktivitas di lereng Pegunungan Slamet yang mengorbankan lingkungan. Banyak sekali mengalihfungsikan lahan sehingga terjadi deforestasi di sana. Salah satunya apa? Aktivitas tambang," kata Bagas ketika diwawancara, Selasa (27/1/2026). 

Dia mengungkapkan, Walhi Jateng tak mempunyai data spesifik soal deforestasi di kawasan Gunung Slamet. "Tapi dari citra satelit saja bisa dibandingkan, hutan di lereng Pegunungan Slamet itu perubahannya sangat besar dari beberapa tahun belakangan sampai hari ini; yang sebelumnya tertutup hijau dan hari ini sudah mulai terbuka," ujarnya. 

Bagus mengatakan, baru-baru ini, terdapat pernyataan dari akademisi soal terjadinya deforestasi besar-besaran di kawasan Gunung Slamet. "Bahkan angkanya sampai 48 hektare kalau tidak salah. Itu data dari pemerintah yang dikutip akademisi dan naik ke media," ucapnya. 

Dia menambahkan, Pemprov Jateng, melalui Dinas ESDM, telah mengakui adanya aktivitas pertambangan di lereng Gunung Slamet. Namun Dinas ESDM Jateng menyampaikan pertambangan di sana legal dan berizin. 

Bagas mengaku cukup menyayangkan hal tersebut. "Maksud kami adalah, ketika ia berizin, seolah-olah jadi tidak punya kontribusi terhadap risiko, salah satunya kebencanaan," ujarnya. 

Menurut Bagas, memang perlu diteliti apakah ada korelasi antara aktivitas pertambangan dan deforestasi di kawasan Gunung Slamet. "Kami melihat saat ini pemerintah mudah menerbitkan izin terkait aktivitas tambang, tapi tidak benar-benar serius menimbang risiko dari izin yang diterbitkan, misalnya terhadap potensi kebencanaan," kata dia. 

Bagas menilai, diperlukan penyelidikan dan investigasi terkait isu tersebut. "Bukan hanya soal izin, tapi juga tambang-tambang yang barangkali beroperasi tapi belum terdaftar," ucapnya. 

Berita Lainnya

Read Entire Article
Politics | | | |