Teknologi Pengelolaan Sampah Jadi Energi Dinilai Jadi Solusi Cepat

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar IPB University Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono menilai pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) berpotensi menjadi solusi pengelolaan sampah nasional, terutama di kawasan perkotaan dengan tekanan timbulan sampah yang terus meningkat. Arief menyebut persoalan sampah di Indonesia telah memasuki fase darurat yang memerlukan intervensi teknologi terukur.

Ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan metode open dumping dinilai tidak lagi memadai karena memicu pencemaran lingkungan dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. “Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata Arief dalam pernyataannya, Selasa (28/1/2026).

Dari sisi lingkungan, Arief menjelaskan WtE berpotensi mempercepat proses pengolahan sampah sekaligus menekan volumenya secara signifikan. Teknologi ini juga dapat mengurangi emisi bau, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta menekan produksi air lindi dan populasi lalat yang berperan sebagai vektor penyakit.

“Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” ujarnya.

Meski demikian, Arief menekankan keberhasilan WtE sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah domestik. Sampah perkotaan di Indonesia masih didominasi fraksi organik dengan kadar air tinggi, sehingga memerlukan pemilahan dan pengolahan awal sebelum masuk ke tahap pembakaran.

“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya. Sampah perkotaan kita cenderung basah, sehingga perlu pengolahan awal agar proses pembakaran efisien dan aman bagi lingkungan,” kata Arief.

Ia juga menyoroti aspek keselamatan lingkungan sebagai prasyarat utama penerapan WtE, mulai dari sistem pengendalian emisi gas buang hingga pengelolaan abu sisa pembakaran yang dapat diklasifikasikan sebagai limbah B3 maupun non-B3. Edukasi publik dinilai penting agar masyarakat memahami manfaat dan risiko teknologi ini secara proporsional.

Arief mencontohkan sejumlah negara yang telah menerapkan WtE dengan standar lingkungan ketat, seperti Jepang di Osaka dan Yokohama, Zurich di Swiss, serta Dubai. Praktik serupa juga diterapkan di Cina, Singapura, Jerman, dan Belgia.

“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional, serta pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Arief menilai rencana pemerintah mengembangkan proyek WtE melalui Danantara Investment Management berada pada arah yang relevan, meski membutuhkan kehati-hatian dalam implementasi. Menurut dia, WtE dapat menjadi solusi cepat dalam situasi darurat sampah, asalkan dijalankan dengan tata kelola yang kuat.

“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya.

Read Entire Article
Politics | | | |