Bantuan Kemanusiaan AS ke Myanmar Dinilai akan Hadapi Banyak Tantangan

20 hours ago 4

Bangunan yang rusak terlihat setelah gempa bumi hari Jumat di Naypyitaw, Myanmar, Kamis, 3 April 2025.

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON -- Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) akan membantu Myanmar mengidentifikasi kebutuhan yang paling mendesak bagi para korban gempa pekan lalu. Tetapi mantan pejabat USAID mengatakan keberangkatan tim asesmen USAID akan tertahan beberapa masalah seperti visa dari pemerintah militer Myanmar.

Mantan pejabat USAID dan sejumlah sumber mengatakan rencana ini juga menghadapi tantangan lain seperti pemangkasan anggaran USAID. Departemen Efisiensi Pemerintah AS yang dipimpin miliuner Elon Musk juga berencana mengakhiri kontrak sejumlah kontraktor dan memecat hampir seluruh staf USAID.

"(Respon akan dirugikan) banyak kebingungan internal mengenai kemampuan untuk merespon dan kesediaan untuk merespon," kata mantan kepala biro kemanusiaan USAID Sarah Charles, Rabu (2/4/2025).

Di konferensi pers rutin juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tammy Bruce mengatakan pakar bencana AS termasuk yang berbasis di Bangkok, Manila dan Washington sedang memantau situasi gempa Myanmar. Ia mengatakan AS akan mengirimkan tim asesmen.

Ia membantah kritik yang menilai pemangkasan anggaran dan personel USAID akan menahan respon AS terhadap bencana tersebut. Bruce mengatakan Washington bekerja sama dengan dengan mitra-mitranya di Myanmar untuk membantu warga yang terdampak gempa.

Media pemerintah Myanmar melaporkan korban jiwa gempa 7,7 skala Richter itu hampir mencapai 3.00 orang. Pemerintah militer Myanmar mengumumkan masa berkabung selama satu pekan.

Bruce mengatakan AS sudah menerima permintaan resmi dari penguasa Myanmar. "AS sudah membuka lebih banyak dari apa yang sekarang dapat kami lakukan," kata Bruce.

Ia tidak mengungkapkan detail permintaan dari penguasa Myanmar. Bruce mengatakan AS berjanji mengirimkan bantuan senilai 2 juta dolar AS.

"(Bantuan ini disalurkan) melalui organisasi bantuan kemanusiaan yang berbasis di Myanmar," tambah Bruce.

Namun Charles dan sejumlah sumber mengatakan pemangkasan anggaran yang dilakukan pemerintah Presiden Donald Trump terhadap USAID akan menahan respon AS yang dilakukan 24 jam setelah bencana. Di saat yang sama negara-negara lain seperti Cina, Rusia termasuk Indonesia sudah mengirimkan bantuan ke Myanmar.

Pada bulan Februari lalu Trump dan Musk mulai memproses penutupan USAID. Langkah untuk melaksanakan agenda "America First" yang dikampanyekan Trump selama pemilihan presiden tahun lalu.

Ribuan pegawai diberhentikan, ratusan kontraktor dipecat dan lebih dari 5.000 program USAID dihentikan. Kebijakan Trump ini dinilai mengganggu operasi kemanusiaan AS yang berdampak bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Di hari gempa mengguncang Myanmar dan Thailand pada Jumat (28/3/2025) lalu, pemerintah AS memberitahu Kongres mereka telah memecat hampir semua personel dan menutup cabang USAID di luar negeri yang tersisa.

Read Entire Article
Politics | | | |