Burung Bicara Sebelas Kata

7 hours ago 7

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, Ada kisah yang selalu membuat manusia modern sedikit cemburu kepada para nabi. Bukan karena mukjizatnya semata, melainkan karena jarak antara manusia dan alam pada masa itu terasa begitu dekat.

Al-Qur'an mengisahkan bagaimana Nabi Sulaiman as memahami bahasa burung, bahkan mendengar percakapan seekor semut yang memperingatkan koloninya agar menghindar dari langkah pasukannya. Bagi orang beriman, itu bukan dongeng zoologi, melainkan penegasan bahwa Tuhan mampu membuka tabir komunikasi makhluk-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Berabad-abad kemudian, manusia mencoba membuka tabir yang sama. Bukan melalui mukjizat, melainkan melalui mikrofon, algoritma, kecerdasan buatan, dan kesabaran yang nyaris tak masuk akal.

Pekan ini, dunia sains memberikan penghargaan senilai 100.000 dolar AS kepada seorang ilmuwan yang berhasil menyusun semacam "kamus" bahasa burung pipit (finch) zebra. Nama penelitinya Dr Julie Elie dari University of California, Berkeley.

Ia menghabiskan lebih dari lima belas tahun hanya untuk menjawab satu pertanyaan yang terdengar sederhana: sebenarnya apa yang sedang dibicarakan burung-burung pipit imut dengan warna memukau itu?

Pertanyaan itu mungkin terdengar lucu. Namun sejarah ilmu pengetahuan sering dimulai dari pertanyaan yang ditertawakan orang. Isaac Newton bertanya mengapa apel jatuh. Charles Darwin bertanya mengapa burung di kepulauan yang berbeda memiliki paruh berbeda.

Kini Julie Elie bertanya mengapa burung dengan perpaduan warna bulu indah yang didominasi belang-belang itu begitu cerewet. Hasilnya ternyata mengejutkan.

Ia menemukan bahwa pipit zebra memiliki sebelas panggilan dasar — semacam kosakata inti — yang digunakan dalam berbagai situasi.

Apa saja isi "kamus" burung pipit zebra itu? Secara sederhana, Julie Elie mengidentifikasi sebelas panggilan dasar yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Ada distance call, semacam "halo, saya di sini" untuk mencari atau memanggil kawanan dari kejauhan.

Ada tet call, sapaan pelan ketika mereka sedang mencari makan bersama. Long tonal call dipakai anak burung untuk menjalin kontak dari jarak jauh. Tet-S call merupakan variasi sapaan pendek.

Nest call digunakan pasangan induk untuk mengatur giliran mengerami telur dan merawat anak. Whine call membantu mempererat hubungan pasangan ketika membangun sarang. Wsst call adalah suara ancaman untuk mengusir penyusup.

Distress call merupakan "teriakan darurat" saat menghadapi bahaya. Begging call adalah rengekan anak burung yang lapar meminta makan. Thuk call membantu komunikasi jarak dekat di dalam kelompok, sedangkan tuck call dipakai untuk memperkuat ikatan pasangan.

Di luar sebelas panggilan inti itu, burung jantan juga memiliki lagu (song) yang jauh lebih rumit — semacam "kartu nama musikal" untuk menarik pasangan sekaligus menandai wilayah kekuasaannya.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa manusia, ternyata kamus burung tidak dimulai dari filsafat atau puisi. Kosakata pertama mereka adalah hal-hal yang sangat praktis: "Aku di sini", "Mari mendekat", "Bahaya!", "Aku lapar", "Ini wilayahku", atau "Aku pasanganmu".

Mungkin memang begitulah bahasa berkembang: bukan dari kata-kata besar, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan hidup dan hidup bersama. Ada panggilan untuk mengenalkan identitas diri. Ada yang memberi tahu sedang melakukan sesuatu. Ada pula "tanda tangan vokal" yang membuat seekor burung tetap dikenali temannya meskipun isi pesannya berubah.

Lebih menarik lagi, burung ternyata lebih sering keliru membedakan suara yang bermakna sama daripada suara yang bunyinya sama. Seolah-olah mereka memang memahami arti, bukan sekadar mendengar bunyi.

Temuan itu mungkin tampak kecil. Padahal sesungguhnya ia mengguncang salah satu kesombongan tertua manusia.

Sejak lama manusia menganggap bahasa adalah benteng terakhir yang membedakan dirinya dari makhluk lain.

Aristoteles pernah menyebut manusia sebagai zoon logon echon — makhluk yang memiliki logos atau bahasa rasional. René Descartes bahkan lebih ekstrem. Baginya, binatang hanyalah mesin biologis yang bergerak karena refleks, bukan karena pikiran. Mereka bersuara, tetapi tidak benar-benar berbicara.

Sains modern perlahan menggerogoti keyakinan itu. Lumba-lumba diketahui memiliki "nama pribadi" berupa siulan khas. Gajah mampu berkomunikasi melalui getaran infrasonik yang menjalar beberapa kilometer.

Lebah juga menari untuk memberi koordinat ladang bunga. Gurita memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang mengejutkan. Kini burung kecil sepanjang belasan sentimeter menunjukkan bahwa mereka memiliki struktur makna dalam komunikasi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |