Pekan Depan, Harga Emas Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp 2,55 Juta—Rp 2,78 Juta per Gram 

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Harga emas masih bergerak pada tren penurunan, seiring dengan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Pada pekan depan, harga emas diprediksi berada di kisaran Rp 2,55 juta — Rp 2,78 juta per gram. 

Pada penutupan perdagangan pekan ini, harga emas dunia tercatat berada di posisi 4.174 dolar AS per troy ons. Harga logam mulia ditutup pada level Rp 2,67 juta per gram. 

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, jika terjadi koreksi, level support pertama harga emas ada di 4.100 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia bergerak di level Rp 2,65 juta per gram. 

“Apabila terkoreksi lagi, level support kedua di 4.000 dolar AS per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp 2,55 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Ahad (5/7/2026). 

Sementara itu, jika harga emas dunia mengalami penguatan, level resisten pertama adalah sebesar 4.248 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia di posisi Rp 2,69 juta per gram.  “Kalau seandainya emas dan logam mulia menguat (lagi), level resisten kedua di 4.348 dolar AS per troy ons, dan logam mulianya di Rp 2,78 juta per gram,” lanjutnya. 

Pada saat yang sama, Ibrahim memprediksi, jika terkoreksi, harga minyak dunia diperkirakan akan berada pada kisaran 64,70 dolar AS per barel, mendekati level 60 dolar AS per barel. Sedangkan jika naik, level resisten-nya yakni di 72,10 dolar AS per barel. 

Untuk indeks dolar AS, ia memprediksi pada pekan depan kemungkinan pergerakannya di posisi 100—102. Sedangkan, prediksi untuk nilai tukar rupiah yakni di kisaran Rp 17.850—Rp 18.100 per dolar AS. 

Ibrahim menjelaskan beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan harga emas atau logam mulia pada pekan depan. Mulai dari dinamika geopolitik, kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, hingga kondisi demand dan supply. 

“Mengenai geopolitik di Timur Tengah, kita tahu pascaperjanjian nota kesepahaman antara AS dan Iran, kondisi Selat Hormuz semakin ramai, bahkan saat ini terjadi oversupply dalam pengiriman minyak mentah,” ujarnya. 

Read Entire Article
Politics | | | |