REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada musim panas tahun ini diperkirakan bukan lagi fenomena sesaat. Sejumlah ilmuwan memperingatkan suhu tinggi berpotensi menjadi pola baru yang berulang setiap musim panas seiring berlanjutnya perubahan iklim.
Suhu di sejumlah negara Eropa memecahkan rekor dalam beberapa pekan terakhir. Gelombang panas memicu gangguan kesehatan, kematian, hingga menghambat layanan transportasi di sejumlah negara seperti Jerman, Republik Ceko, dan Polandia, sementara suhu di beberapa wilayah Prancis menembus 40 derajat Celsius.
Kelompok ilmuwan iklim World Weather Attribution (WWA) memperkirakan gelombang panas tahun ini menyebabkan sekitar 2.300 kematian terkait panas di 12 negara Eropa. Menurut WWA, peluang terjadinya gelombang panas seperti saat ini sekitar 100 kali lebih besar dibandingkan 2003 dan hampir tidak mungkin terjadi 50 tahun lalu.
“Kematian terkait panas kemungkinan akan menjadi faktor bawaan iklim panas di Eropa,” kata Direktur Regional Eropa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Hans Kluge, dikutip dari Al Jazeera, Ahad (5/7/2026).
Kluge mengatakan, sejak 1990-an angka kematian akibat cuaca panas meningkat rata-rata 52 kasus per satu juta penduduk. Hingga kini belum terlihat tanda-tanda tren tersebut akan mereda.
Para ilmuwan mencatat gelombang panas saat ini sekitar 3,5 derajat Celsius lebih panas dibandingkan 1976 dan dua derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan 2003.
“Bayangkan ini seperti sebuah perlombaan di mana garis start-nya telah dipindahkan jauh lebih dekat ke garis finis,” kata ilmuwan University of Reading Akshay Deoras.
Lembaga pemantau iklim Eropa Copernicus melaporkan laju pemanasan di Eropa kini mencapai dua kali lipat dibandingkan dekade 1980-an. Berdasarkan pemodelan WWA, jika emisi gas rumah kaca terus meningkat seperti saat ini, gelombang panas yang sebelumnya hanya terjadi setiap beberapa dekade diperkirakan akan menjadi peristiwa tahunan.
Salah satu penyebabnya ialah fenomena heat dome atau kubah panas, ketika massa udara panas terperangkap di suatu wilayah selama beberapa hari hingga beberapa pekan. Menurut Deoras, fenomena tersebut bukan hal baru, tetapi kenaikan suhu dasar membuat dampaknya menjadi jauh lebih ekstrem.
Ilmuwan University of Reading Hannah Cloke mengatakan, kondisi yang dirasakan saat ini merupakan dampak akumulasi emisi gas rumah kaca selama beberapa dekade terakhir.
“Sistem iklim butuh waktu untuk meresponsnya, jadi apa yang kita rasakan saat ini merupakan akibat polusi di masa lalu,” katanya.
Laporan Copernicus juga menunjukkan sekitar 95 persen wilayah Eropa mengalami suhu di atas rata-rata sepanjang 2025. Cloke menilai sebagian dampak perubahan iklim, seperti pencairan gletser di Pegunungan Alpen, sudah sulit dipulihkan.
Pencairan tersebut diperkirakan mengurangi debit sungai-sungai utama di Eropa pada musim panas sehingga meningkatkan risiko krisis air bersih dan mengganggu transportasi sungai.
Meski demikian, Cloke menegaskan masih ada peluang untuk menekan dampak yang lebih buruk melalui pengurangan emisi karbon dan percepatan adaptasi.
“Oleh karena itu, apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan perbedaan antara musim panas yang sekadar sulit untuk dijalani di masa depan, dan musim panas yang benar-benar di luar kemampuan kita untuk bertahan,” katanya.
Lancet Countdown Europe memperkirakan sekitar 62 ribu orang meninggal akibat cuaca panas di Eropa sepanjang 2024. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat tajam pada 2050 apabila tidak diikuti langkah mitigasi dan adaptasi yang memadai.
Kluge mengatakan sebagian besar bangunan di Eropa dirancang untuk mempertahankan panas, bukan melepaskannya. Karena itu, menurut dia, pemerintah perlu mempercepat renovasi bangunan sekaligus memperlakukan gelombang panas sebagai risiko yang dapat diprediksi.
“Pemerintah perlu merencanakan penanganan cuaca panas seperti mereka bersiap menghadapi flu musim dingin, yakni sebagai tantangan yang berulang dan dapat diprediksi yang membutuhkan infrastruktur permanen, bukan krisis sesekali yang membutuhkan improvisasi darurat,” ujarnya.
Selain memperkuat sistem peringatan dini, para ilmuwan juga menilai pembaruan infrastruktur air dan pengurangan emisi karbon tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi intensitas, frekuensi, dan durasi gelombang panas pada masa mendatang.

7 hours ago
8












































