CAF Sanksi Pelatih Senegal Usai Kericuhan di Final Piala Afrika

2 hours ago 3

Kapten Senegal Sadio Mane mengangkat piala bersama rekan satu timnya saat merayakan gelar juara Piala Afrika 2025 di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Ahad (18/1/2026) waktu setempat. Senegal berhasil menjadi juara Piala Afrika setelah mengalahkan Maroko dengan skor 1-0. Gol kemenangan Senegal dicetak Pape Alassne Gueye pada menit ke-94 babak perpanjangan waktu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menjatuhkan sanksi berat kepada pelatih tim nasional Senegal, Pape Thiaw, menyusul insiden kericuhan pada final Piala Afrika 2025 melawan tuan rumah Maroko. Thiaw diskors selama lima pertandingan dan didenda sebesar 100 ribu dolar AS atau sekira Rp1,7 miliar karena dinilai berperilaku tidak sportif.

Sanksi tersebut dijatuhkan setelah Thiaw memerintahkan para pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan wasit yang menganulir gol mereka. Aksi itu menyebabkan pertandingan final tertunda selama sekitar 14 menit.

CAF juga menjatuhkan denda sebesar 615 ribu dolar AS atau sekira Rp10,3 miliar kepada Federasi Sepak Bola Senegal. Hukuman tersebut terkait perilaku tim serta tindakan sebagian pendukung Senegal selama laga final. Selain itu, dua pemain Senegal, Iliman Ndiaye dan Ismaila Sarr, masing-masing diskors dua pertandingan kompetisi CAF akibat perilaku tidak sportif terhadap perangkat pertandingan.

Meski demikian, Komite Disiplin CAF menolak upaya Maroko untuk membatalkan hasil pertandingan. Permintaan tersebut diajukan setelah aksi walkout pemain Senegal sempat menghentikan jalannya laga.

Di sisi lain, tuan rumah Maroko juga tidak luput dari sanksi. CAF menjatuhkan total denda sebesar 315 ribu dolar AS atau sekira Rp5,3 miliar kepada federasi setempat akibat sejumlah pelanggaran, mulai dari perilaku anak-anak pengumpul bola, tindakan pemain dan staf di area Video Assistant Review (VAR), hingga penggunaan laser oleh pendukung di stadion.

Sejumlah pemain Maroko turut menerima hukuman. Kapten tim Achraf Hakimi dijatuhi sanksi larangan bermain dua pertandingan CAF, dengan satu pertandingan di antaranya ditangguhkan selama satu tahun. Sementara Ismael Saibari diskors tiga pertandingan CAF karena dinilai melakukan tindakan tidak sportif.

Insiden tersebut terjadi ketika Hakimi dan Saibari berupaya menyingkirkan handuk yang diletakkan di tepi lapangan oleh kiper Senegal, Edouard Mendy, di tengah hujan deras yang mengguyur Rabat.

Kericuhan memuncak menjelang akhir waktu normal setelah gol Senegal dianulir. Tak lama berselang, Maroko mendapat hadiah penalti, tapi eksekusi Brahim Diaz gagal berbuah gol. Senegal akhirnya keluar sebagai juara setelah Pape Gueye mencetak gol penentu pada babak perpanjangan waktu.

Insiden panas di laga puncak ini menodai penutupan Piala Afrika 2025 yang sejatinya mencatatkan kesuksesan besar, termasuk rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen oleh CAF. 

sumber : Reuters

Read Entire Article
Politics | | | |