Produk Whip Pink dalam berbagai bentuk ukuran.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi., Sp.N., M.Si.Med mengemukakan penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O) berisiko bagi kesehatan, terutama kerusakan saraf. Pada Kamis (29/1/2026), Sholihul menyampaikan bahwa secara ilmiah efek jangka pendek penyalahgunaan gas Nitrous Oxide (N2O) atau dikenal “Whip Pink" secara instan berisiko menonaktifkan Vitamin B12 dalam tubuh.
“Tanpa B12 yang aktif, lapisan pelindung saraf (Mielin) akan rusak, di samping itu terjadi juga kekacauan beberapa neurotransmiter (zat yang berperan sebagai mekanisme komunikasi sel saraf) serta menimbulkan hipoxia (kekurangan oksigen),” kata dokter Sholihul.
Sholihul menjelaskan, menghirup gas tersebut juga berisiko ketergantungan, hal ini lantaran secara medis N20 memicu pelepasan dopamin di jalur reward otak, yang memberikan sensasi kepuasan instan.
Sifatnya yang cepat hilang justru membuat otak terus-menerus menginginkan dosis berikutnya, yang secara bertahap dapat berkembang menjadi ketergantungan psikologis yang kuat, hal ini yang sering kemudian disebut sebagai adiksi.
“Meskipun efek high-nya hanya bertahan 1-2 menit, hal inilah yang memicu perilaku binging atau penggunaan berulang kali dalam satu sesi,” tutur dia.
Penyalahgunaan gas N2O atau "Whip Pink", lanjut Sholihul, juga menimbulkan efek jangka panjang terjadi kerusakan bukan hanya di otak tetapi juga menimbulkan kerusakan sumsum tulang belakang.
“Fenomena ini disebut Subacute Combined Degeneration (SCD),” imbuh dia.
Lebih lanjut, dokter yang juga mengajar untuk Dokter Muda Universitas Pertahanan Jakarta itu mencontohkan bahwa penggunaan medis N2O dalam dunia medis dilakukan dengan mesin anastesi yang harus dicampurkan dengan oksigen.
Sehingga mempunyai kadar oksigen lebih tinggi (lebih dari 30 persen) dari udara bebas (21 persen) yang akan berhenti bila kadarnya menurun, serta protokol pembersihan (Wash-Out) dengan pemberian oksigen murni 100 persen yang harus dilakukan profesional yang terlatih.
“Penggunaan zat yang bertujuan mendapatkan efek “rekreasional” psikotripika tanpa pengawasan tenaga profesional sangat berbahaya,“ ujar dia.
sumber : Antara

3 hours ago
4















































