Danantara Blak-Blakan Ungkap Nasib Krakatau Steel, Masih Bisa Diselamatkan?

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan perhatian DPR sangat penting dalam mengawal proses penyelamatan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Dony menyebut Krakatau Steel menjadi perusahaan pertama yang ia kunjungi setelah dilantik sebagai COO Danantara guna memahami secara langsung latar belakang persoalan dan kondisi faktual perusahaan sebelum merancang langkah penyelamatan.

"Pada saat itu kunjungan itu. Mereka punya satu HSM (High Speed Mill) itu dalam keadaan terbakar pada waktu itu. Kemudian mereka punya blast furnace itu tidak jalan. Mereka punya hutang cukup besar, kurang lebih, lebih dari 25 triliun pada waktu itu," ujar Dony saat rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Dony menyebut Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan telah berupaya maksimal menyelamatkan perusahaan, namun kondisi tetap berat. Dari titik tersebut, ia mulai menyusun langkah-langkah sistematis untuk penyelamatan Krakatau Steel.

Dony menjelaskan langkah penyelamatan pertama difokuskan pada perbaikan fasilitas produksi, terutama HSM yang terbakar. Pada Desember 2024, ucap dia, HSM berhasil diperbaiki dan kembali beroperasi.

"Ini adalah satu-satunya pabrik manufaktur baja kita yang ada di Krakatau Steel pada waktu itu. Saya hadir ke sana menyaksikan bagaimana proses kita kembali bisa menghidupkan mesin kita," ucap Kepala BP BUMN tersebut.

Ia menegaskan industri baja merupakan industri strategis bagi Indonesia, sehingga penyelamatan Krakatau Steel tidak hanya bersifat bisnis, tetapi juga menyangkut kepentingan nasional. Dony mengatakan langkah awal yang diambil adalah penyehatan finansial, terutama melalui negosiasi ulang utang.

Berkat kerja keras direksi, tim manajemen, dan Danantara, ucap Dony, Krakatau Steel berhasil mendapatkan haircut (pengurangan nilai utang) dari kreditur. Selain haircut, dilakukan pula restrukturisasi terhadap utang-utang lainnya.

Ia menjelaskan sebagian keuntungan Krakatau Steel berasal dari proses restrukturisasi dan pembalikan pencadangan (reversal of provisioning) yang sebelumnya telah dicatat. Selain itu, dilakukan upaya mencocokkan (matching) kinerja anak-anak perusahaan yang masih beroperasi dan menghasilkan keuntungan.

"Terutama sekali, kita punya pelabuhan yang masih memberikan return yang cukup baik sehingga kita matching-kan untuk membantu menutupi kewajiban induk perusahaan," lanjut Dony.

Dony juga menyoroti persoalan modal kerja. Sebelumnya, Krakatau Steel mengandalkan vendor financing dengan bunga sangat tinggi akibat keterbatasan likuiditas. Menurut Dony, biaya bunga tersebut berdampak besar terhadap total biaya produksi, bahkan mencapai hampir 30 persen. Hal ini menjadi salah satu persoalan utama yang harus diselesaikan.

"Saya tidak mau memberikan uang karena ini uang rakyat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu bagi saya, kalau kita memperbaiki ini, kita harus meyakinkan perusahaan ini berada dalam kondisi yang baik," ucap pria kelahiran Tanjung Alam, Sumatera Barat tersebut.

Sebelum melakukan injeksi modal, Dony menekankan perlunya analisis mendalam terhadap profil bisnis Krakatau Steel. Ia menilai syarat utama adalah perusahaan harus memiliki kontribusi margin yang positif.

"Kalau kontribusi marginnya negatif, berapa pun yang kita masukkan pasti uangnya akan kebakar untuk biaya operasional," ucap Dony.

Dony menantang manajemen Krakatau Steel untuk menurunkan biaya operasional sebagai prasyarat utama. Ia menjelaskan masalah utama Krakatau Steel adalah tingginya biaya tetap (fixed cost) yang melebihi kontribusi margin.

Akibatnya, ucap dia, perusahaan tidak mampu menutup biaya tetapnya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, menurut Dony, setiap tambahan dana hanya akan terus terserap tanpa menghasilkan perubahan struktural.

"Syarat dari kita melakukan injeksi manajemen Krakatau Steel wajib menurunkan biaya yang terjadi. Termasuk juga kita men-shutdown fasilitas yang its menghemat Rp 12 miliar per bulan," lanjut dia.

Mantan Direktur Utama InJourney itu menambahkan proses penyehatan dilakukan dengan sangat hati-hati agar Krakatau Steel kembali pada model bisnis yang benar. Ia mengaku tidak ingin mengambil risiko menyuntikkan dana tanpa kepastian perbaikan.

Dony menantang manajemen bahwa jika syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, maka penutupan perusahaan menjadi opsi. Namun, jika manajemen mampu memenuhi prasyarat perbaikan, ia memastikan pemerintah akan membantu.

"Saya menantang kepada teman-teman di Krakatau Steel, kalau enggak, kita tutup saja. Tetapi karena memang kalau syarat ini teman-teman dimanajemen bisa memenuhi, kita akan membantu," kata Dony.

Read Entire Article
Politics | | | |