Dinamika BBM Indonesia 2025, dari Pertamax Oplosan hingga Harapan Baru Bernama Bobibos

3 weeks ago 23

Tahun 2025 menjadi tahun penuh dinamika di “panggung” bahan bakar Indonesia. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi sektor bahan bakar minyak nasional. Isu Pertamax oplosan yang mengguncang kepercayaan publik berujung pada kelangkaan BBM, hingga kelahiran Bobibos di akhir tahun sebagai alternatif energi dan harapan baru.

Pertamax oplosan di awal tahun

Kasus dugaan “Pertamax oplosan” mencuat di Indonesia pada awal 2025, tepatnya di Februari. Publik ramai membicarakan klaim BBM Pertamax (RON 92) dicampur atau dioplos dengan bahan bakar beroktan lebih rendah seperti Pertalite (RON 90), bahkan disebut tercampur air di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Ini memicu keresahan pengguna kendaraan serta penurunan kepercayaan terhadap produk BBM yang dikelola pemerintah.

Isu Pertamax oplosan bermula dari pernyataan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Abdul Qohar, yang menyederhanakan istilah blending menjadi “oplos”. “BBM berjenis RON 90, tetapi dibayar seharga RON 92, kemudian dioplos, dicampur,” ujarnya di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (25/2/2025), saat membahas kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018–2023.

Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), langsung membantah pernyataan tersebut dan menegaskan tidak ada pengoplosan BBM Pertamax. Kualitas Pertamax dipastikan sesuai dengan spesifikasi pemerintah, yakni RON 92.

“Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan RON masing-masing. Pertalite memiliki RON 90 dan Pertamax memiliki RON 92. Spesifikasi yang disalurkan ke masyarakat sejak awal penerimaan produk di terminal Pertamina telah sesuai dengan ketentuan pemerintah,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari.

Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo juga menyebutkan penambahan zat aditif pada Pertamax bersifat meningkatkan performa. “Penambahan aditif tersebut bertujuan menambah nilai performa produk. Skema ini juga sama dengan badan usaha lain,” ujar Ega.

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut merespons kekhawatiran masyarakat terkait kualitas BBM Pertamina. “Kami akan menyusun tim dengan baik untuk memberikan kepastian agar masyarakat membeli berdasarkan spesifikasi dan harga. Jadi, tidak ada masalah,” kata Bahlil.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |