Dopamin Kiamat: Mengapa Kita Lebih Suka Bahas Dajjal Daripada Strategi Perang?

3 hours ago 11

Oleh: Fahmi Salim, Direktur Baitul Maqdis Institute

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap kali rudal melintas di langit Timur Tengah, timeline kita ikut bergetar. Bukan hanya oleh ledakan, tetapi oleh banjir narasi dan spekulasi tafsir. Para tengkulak wacana akhir zaman pun bermunculan.

Perang dibaca sebagai nubuat. Peta militer ditafsirkan sebagai peta akhir zaman. Bahkan aktor-aktor negara diseret ke dalam label teologis, siapa “pembela kebenaran”, siapa jelmaan Al-Masih ad-Dajjal, dan siapa jelmaan Al-Mahdi.

Di titik ini, masalahnya bukan sekadar bias. Masalahnya adalah kita mulai kehilangan batas antara iman dan analisis, antara dakwah dan propaganda.

Geopolitik yang Disederhanakan

Konflik Timur Tengah hari ini melibatkan: rivalitas kekuatan regional, perebutan jalur energi dan perdagangan, kompetisi pengaruh antara negara besar

Namun di ruang publik digital, semua itu sering dipangkas menjadi satu kalimat sederhana: “Ini perang akhir zaman.”

Padahal realitas jauh lebih rumit. Iran tidak bergerak semata karena ideologi, begitu juga negara-negara Teluk tidak semata karena agama. Ada kalkulasi kekuasaan, keamanan, dan ekonomi yang menentukan arah kebijakan.

Konflik Timur Tengah hari ini bukan sekadar pertarungan simbolik. Ia berdiri di atas angka-angka konkret.

Iran memiliki anggaran militer sekitar $10–15 miliar per tahun, lebih dari 600.000 personel aktif dan ribuan rudal balistik dengan jangkauan hingga 2.000 km.

Sementara Israel mencatat rekor anggaran militer sekitar $24 miliar, didukung penuh oleh Amerika Serikat, dan memiliki sistem pertahanan berlapis seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow.

Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengalokasikan puluhan miliar dolar untuk pertahanan, membeli sistem senjata canggih dari Barat dan menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Dan jangan lupakan fakta paling krusial: Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Artinya, satu eskalasi saja bisa mengguncang ekonomi global.

Aliansi dan Blok yang Saling Bertabrakan

Peta konflik bukan dua kubu sederhana, melainkan jaringan aliansi kompleks: Iran dan jaringan proksinya (Lebanon, Irak, Yaman). Israel dengan dukungan penuh AS. Negara Teluk dengan posisi ambigu: antara keamanan AS, jaminan kekuasaan dan stabilitas regional. Kekuatan global seperti China dan Rusia yang mengamati dan memanfaatkan celah.

Di atas kertas, ini adalah perang kepentingan ekonomi dan perebutan dominasi politik, bukan perang teologis murni.

Namun di ruang digital, semuanya direduksi menjadi: “Ini perang kebenaran vs kebatilan.”

Dari Data ke Dogma

Di sinilah pergeseran berbahaya terjadi. Data yang kompleks—tentang militer, energi, dan aliansi—ditinggalkan. Yang diambil hanya narasi yang menguatkan keyakinan.

Padahal Al-Qur’an sudah memberi peringatan: “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Ketika fakta diabaikan dan spekulasi diutamakan, kita tidak lagi membaca realitas. Kita hanya mengulang keyakinan.

Siapa Diuntungkan dari Narasi Akhir Zaman?

Narasi eskatologis yang simplistik punya fungsi strategis: memobilisasi massa tanpa perlu penjelasan kompleks, menutup kritik terhadap aktor tertentu, mengubah konflik politik menjadi kewajiban moral.

Dalam kondisi ini, publik berhenti bertanya: siapa menyerang siapa, siapa korban sebenarnya, dan siapa yang diuntungkan secara ekonomi dan politik.

Yang tersisa hanya: “Ini pihak yang benar atau tidak?” Dan itu adalah pertanyaan paling mudah untuk dimanipulasi.

Sirah: Antara Wahyu dan Realisme

Dalam sirah, Nabi Muhammad tidak pernah mencampuradukkan setiap konflik dengan narasi akhir zaman.

Saat menghadapi tekanan besar, beliau tetap: membaca kekuatan lawan, menyusun strategi, dan memilih waktu yang tepat.

Perjanjian Hudaibiyah adalah contoh klasik: keputusan yang secara emosional terasa berat, tetapi secara strategis membuka jalan kemenangan.

Pelajarannya jelas: bahkan dalam perjuangan agama, realitas dan rasionalitas tidak boleh diabaikan.

Dopamin Kiamat dan Polarisasi

Media sosial mempercepat segalanya. Setiap serangan jadi konten viral, narasi akhir zaman diangkat jadi trending, sehingga membuat publik terbelah. emosi public memuncak dan lalu dilupakan. Beberapa minggu kemudian, pola yang sama terulang dengan konflik baru.

Inilah yang bisa disebut sebagai amnesia geopolitik. Publik tidak lagi punya memori panjang, hanya reaksi pendek. Dan dalam kondisi ini, narasi apa pun bisa ditanam dengan mudah.

Sebagian euforia memuji satu pihak sebagai “pembela Islam”. Sebagian lain mencaci sebagai “pengkhianat umat”.

Di tengah itu, korban sipil—di Gaza, di Teluk, di kawasan konflik—, ditutupnya Masjid Al-Aqsa selama 40 hari dan yahudisasi Masjid Ibrahimi di kota Al-Khalil (Hebron) hilang dari perhatian umat dan para pemimpin.

Yang tersisa hanya narasi cetar membahana seputar Armageddon dan akhir zaman.

Ketika Semua Jadi Dajjal

Ketika setiap lawan dilabeli sebagai bagian dari Dajjal, diskusi berhenti. Tidak ada lagi ruang analisis, hanya vonis.

Padahal dalam hadis, Dajjal bukan simbol fleksibel. Ia adalah fitnah spesifik yang belum muncul dalam bentuk yang dijelaskan secara pasti.

Mengubahnya menjadi label politik justru merusak makna itu sendiri.

Kembali ke Prinsip: Iman Tanpa Paranoia

Mengimani akhir zaman adalah bagian dari akidah. Tapi menjadikan setiap konflik sebagai bukti bahwa kita sudah berada di fase final adalah bentuk paranoia kolektif.

Alquran mengajarkan keseimbangan: “Agar kamu tidak berduka atas apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23)

Artinya, bahkan dalam situasi besar sekalipun, umat diminta tetap stabil—tidak larut dalam euforia, tidak tenggelam dalam ketakutan.

Rasulullah ajarkan optimisme bukan pesimisme saat hadapi puncak momen yang genting sekalipun. Sabdanya, “Jika kiamat terjadi sementara di tanganmu ada benih tumbuhan, maka segera tanam.”

Timur Tengah Hari ini

Timur Tengah hari ini adalah: medan konflik energi, perebutan hegemoni persimpangan jalur perdagangan global dan arena persaingan kekuatan besar.

Ia bukan sekadar panggung simbolik akhir zaman.

Akhir zaman memang akan datang—itu bagian dari iman. Namun sebelum itu, manusia tetap hidup dalam dunia nyata yang menuntut: pemahaman, keadilan dan ketenangan berpikir.

Karena jika semua kita baca sebagai nubuat akhir zaman, kita berisiko kehilangan dua hal sekaligus: akal sehat dan empati.

Tanpa keduanya, kita tidak sedang memahami dunia. Kita hanya sedang tenggelam dalam ilusi kepastian.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |