REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA — Perum Jasa Tirta II (PJT II) mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di sejumlah waduk sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Utama PJT II Imam Santoso menyampaikan, pemanfaatan waduk untuk PLTS terapung menjadi salah satu strategi untuk mengoptimalkan aset sumber daya air sekaligus menghadirkan sumber energi bersih yang berkelanjutan. Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI di Kantor Pusat PJT II, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026).
Menurut Imam, PJT II memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, terutama melalui pengembangan PLTS di atas permukaan waduk.
“PJT II memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan, termasuk melalui pemanfaatan area waduk untuk PLTS terapung. Ini menjadi bagian dari kontribusi kami dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Imam.
Dalam jangka pendek, pengembangan PLTS akan difokuskan pada optimalisasi potensi yang telah ada, termasuk peningkatan kapasitas pembangkit serta pengembangan PLTS terapung di waduk strategis. Sementara itu, dalam jangka menengah hingga panjang, PJT II menargetkan penguatan portofolio energi bersih melalui integrasi berbagai sumber EBT, seperti tenaga surya dan tenaga air.
Meski demikian, pengembangan PLTS dan energi terbarukan di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Imam mengakui, variabilitas sumber energi surya menjadi salah satu kendala teknis yang perlu diantisipasi, selain kebutuhan infrastruktur pendukung yang memadai.
Di sisi lain, kebutuhan investasi yang relatif besar juga menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat realisasi proyek-proyek energi bersih. Integrasi pembangkit EBT ke dalam sistem kelistrikan nasional pun memerlukan perencanaan yang matang agar keandalan pasokan listrik tetap terjaga.
“Pengembangan PLTS merupakan bagian penting dalam perjalanan transisi energi nasional. Karena itu, kami terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta mengadopsi teknologi yang adaptif agar implementasi di lapangan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” kata Imam.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, PJT II menggandeng PT PLN Nusantara Power dalam menyusun peta jalan pengembangan energi terbarukan yang terintegrasi dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional.
Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruli Firmansyah menilai sinergi antarperusahaan menjadi kunci dalam mempercepat pengembangan energi bersih sekaligus menjaga keandalan sistem listrik nasional.
“Kolaborasi antara PJT II dan PLN Nusantara Power merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem energi yang andal. Dengan sinergi ini, kami optimistis dapat mendukung ketahanan energi nasional secara berkelanjutan,” ujar Ruli.
Selain penguatan kolaborasi, PJT II juga menyiapkan langkah mitigasi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan sistem pemantauan operasional, serta pengelolaan risiko yang komprehensif.
Melalui pengembangan PLTS terapung dan penguatan sinergi lintas sektor, PJT II menargetkan kontribusi yang lebih besar dalam mendorong sistem energi nasional yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.

10 hours ago
10

















































