Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat yang juga praktisi kesehatan, Farabi El Fouz.
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat yang juga praktisi kesehatan, Farabi El Fouz mendorong pemerintah daerah (pemda) dan seluruh pemangku kepentingan memberikan perhatian serius terhadap pemulihan psikologis korban bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Menurutnya, penanganan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik dan infrastruktur, mesti juga pada kondisi mental dan trauma yang dialami para korban.
Farabi menilai, bencana longsor tidak hanya meninggalkan kerusakan lingkungan dan kehilangan harta benda, juga menyisakan luka batin yang mendalam, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Trauma berkepanjangan, kata dia, dapat berdampak pada kualitas hidup korban jika tidak ditangani secara tepat dan berkelanjutan.
“Trauma healing harus menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana. Korban tak cukup hanya diberi bantuan logistik, juga perlu pendampingan psikologis agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan secara normal,” ujar Farabi, Rabu (28/1/2026) pagi.
Legislator dari Partai Golkar ini mendorong pemda bekerja sama dengan tenaga profesional, psikolog, relawan kemanusiaan, serta lembaga sosial untuk menghadirkan layanan trauma healing secara terstruktur di lokasi terdampak.
Program tersebut, lanjutnya, perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak bersifat seremonial.
Sebagai anggota Komisi V DPRD Jabar yang membidangi kesejahteraan rakyat, Farabi juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, termasuk dinas sosial, dinas kesehatan, dan instansi terkait lainnya.
Ia berharap kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat korban bencana, tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi hingga proses pemulihan selesai. “Korban harus merasa ditemani dan dilindungi. Pemulihan mental adalah kunci agar masyarakat bisa bangkit kembali pascabencana,” pungkasnya.

2 hours ago
3














































