Geser Dominasi AS, China Produksi Chip Masif 60 Ribu Unit dalam 2 Bulan

14 hours ago 11

Ilustrasi chip.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah memanasnya persaingan teknologi global, satu pertanyaan besar mulai mengemuka: apakah lonjakan produksi chip China merupakan bentuk perlawanan terhadap Amerika, atau justru strategi untuk menguasai pasar dunia?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Langkah China mempercepat produksi chip pada dasarnya berangkat dari satu kekhawatiran mendasar, yakni ketergantungan yang terlalu besar terhadap teknologi asing, khususnya Amerika dan sekutunya. Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan ekspor teknologi dari Washington telah menjadi alarm keras bagi Beijing bahwa rantai pasok bisa diputus kapan saja.

Dari situ, arah kebijakan China menjadi jelas. Mereka tidak ingin lagi berada dalam posisi rentan. Produksi chip dalam negeri bukan sekadar proyek industri, tetapi bagian dari strategi bertahan. Dalam logika ini, kemandirian teknologi menjadi fondasi utama, bukan dominasi pasar.

Namun, begitu produksi meningkat dan kapasitas industri diperluas, efeknya otomatis berubah. China tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai memasuki arena persaingan langsung dengan Amerika. Di sinilah garis antara strategi defensif dan ofensif menjadi kabur.

Perkembangan terbaru memperkuat arah tersebut. Klaster komputasi terbesar untuk penelitian kecerdasan buatan diluncurkan minggu ini, menandai lompatan baru dalam infrastruktur teknologi China. Peluncuran ini terjadi bersamaan dengan publikasi statistik yang menunjukkan lonjakan signifikan dalam produksi chip untuk kebutuhan AI, sebagaimana dilaporkan Shanghai Morning Post dan South China Morning.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa China telah menggandakan produksi domestik chip berteknologi tinggi hanya dalam dua bulan. Total produksinya mencapai sekitar 60.000 unit, sebuah angka yang menunjukkan percepatan luar biasa dalam waktu singkat.

Papan akselerasi AI yang digunakan dalam sistem ini dikembangkan oleh Sugon, perusahaan superkomputer yang berafiliasi dengan Akademi Ilmu Pengetahuan China. Teknologi tersebut menjadi bagian inti dari jaringan superkomputer nasional di Zhengzhou, Provinsi Henan.

Langkah ini bukan sekadar peningkatan kapasitas teknis. Ia mencerminkan upaya sistematis untuk membangun ekosistem komputasi mandiri, dari perangkat keras hingga infrastruktur pemrosesan data. Dengan kata lain, China sedang membangun fondasi untuk menjadi kekuatan utama dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Read Entire Article
Politics | | | |