REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bandara Heathrow London, selama beberapa dekade, adalah simbol tak terbantahkan dari konektivitas global Eropa. Dengan lima terminal dan dua landasan pacu, kompleks seluas 1.227 hektar ini tak pernah sepi.
Suasana di dalamnya adalah simfoni yang terus-menerus: derap langkah penumpang dari segala penjuru dunia yang berdesakan di gerbang imigrasi, suara pengumuman yang bergema dalam puluhan bahasa, dan barisan taksi hitam serta bus yang tak putus mengular di area kedatangan.
Namun, di balik kesibukan yang tampak prima itu, tersimpan sebuah tekanan: kapasitasnya yang telah mencapai titik jenuh. Setiap pesawat yang lepas landas dan mendarat adalah hasil dari penjadwalan yang ketat dan perebutan slot yang kompetitif, mencerminkan sebuah pusat penerbangan kelas dunia yang berjuang mempertahankan mahkotanya di tengah keterbatasan infrastruktur yang mendasar.
Persaingan Ketat di Puncak Eropa
Menurut data dari ACI Europe, pada tahun lalu Heathrow masih bertahan di posisi puncak dengan 84,48 juta penumpang. Namun, pertumbuhannya yang hanya 0,7% mengungkapkan cerita yang berbeda: bandara ini seperti mesin yang sudah beroperasi pada rpm maksimum.
Upaya untuk menambah landasan pacu ketiga masih terperangkap dalam debat politik dan lingkungan, dengan proyeksi penyelesaian yang belum terlihat sebelum tahun 2035. Di saat yang sama, sebuah pesaing dari tepi Bosporus bergerak dengan langkah yang jauh lebih cepat dan agresif, mengikis jarak yang dulu terlihat aman.
Kebangkitan Sang Penantang: Bandara Istanbul dan Ambisi Turki
Berbeda dengan tekanan di Heathrow, Bandara Istanbul (IST) adalah gambaran dari ambisi yang sedang mewujud. Sejak diresmikan pada 2018, bandara megah yang dirancang untuk menjadi yang terbesar di dunia ini telah mencatat pertumbuhan eksponensial. Pada tahun lalu, lalu lintas penumpangnya meroket 5,5% menjadi 84,44 juta, hanya selisih tipis 40.000 penumpang dari sang raja lama.
Dalam lima tahun terakhir, volume penumpang di hub Turki telah melonjak hampir seperempatnya. Kesibukan di IST adalah cerminan geostrategi: ia memanfaatkan lokasinya yang unik sebagai jembatan antara Eropa dan Asia, serta menjadi penghubung vital bagi Rusia, yang terisolasi oleh sanksi Barat, dengan dunia luar. Suasana di terminalnya yang luas dan modern dipadati oleh penumpang transit yang menghubungkan rute-rute yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Kekuatan Ganda Istanbul
Kekuatan penerbangan Turki tidak hanya bertumpu pada satu bandara. Bandara Istanbul Sabiha Gökçen (SAW), yang berperan sebagai hub sekunder, justru menunjukkan pertumbuhan yang lebih spektakuler, dengan lonjakan 16,7% menjadi 48,41 juta penumpang.

2 hours ago
3














































