REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia mendorong penguatan kerja sama pengelolaan mangrove berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara melalui pembentukan World Mangrove Center. Inisiatif tersebut disampaikan dalam The 21st ASEAN Working Group on Forest Management (21st AWG-FM) di Siem Reap, Kamboja, sebagai upaya memperkuat kolaborasi konservasi dan rehabilitasi mangrove di tingkat regional maupun global.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ristianto Pribadi mengatakan, di bawah arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Indonesia terus memperkuat diplomasi kehutanan sebagai instrumen menghadirkan solusi atas berbagai tantangan lingkungan sekaligus mempererat kerja sama antarnegara ASEAN.
“Arahan Bapak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sangat jelas, yaitu menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai negara yang berhasil mengelola sumber daya hutannya secara berkelanjutan, tetapi juga sebagai mitra strategis yang aktif berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi kawasan maupun dunia,” ujar Ristianto dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan mangrove merupakan ekosistem strategis yang berperan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, perlindungan wilayah pesisir, konservasi keanekaragaman hayati, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia juga mengingatkan ekosistem mangrove di kawasan ASEAN masih menghadapi berbagai tantangan, seperti deforestasi, konversi lahan, dampak perubahan iklim, dan pencemaran. Karena itu, penguatan kerja sama regional dinilai penting untuk mendukung pengelolaan mangrove yang berkelanjutan.
Indonesia turut menyoroti perannya dalam pembentukan ASEAN Mangrove Network (AMNet) di Surabaya pada 2014 sebagai wadah sinergi pengelolaan mangrove di kawasan. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia memaparkan capaian AMNet Phase I, meliputi pengembangan sistem informasi mangrove ASEAN, model silvofishery, lokakarya regional, serta penyusunan ASEAN Strategy on Sustainable Mangrove Ecosystem Management 2025–2030 beserta pedoman implementasinya.
Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan AMNet Phase II yang difokuskan pada penguatan pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas negara anggota, perluasan praktik pengelolaan berbasis masyarakat, serta dukungan terhadap implementasi ASEAN One Billion Trees Growing Initiative.
Pada kesempatan yang sama, Indonesia memperkenalkan World Mangrove Center sebagai pusat kolaborasi internasional yang menghubungkan riset, kebijakan, pembiayaan, dan implementasi konservasi mangrove untuk mempercepat rehabilitasi ekosistem mangrove di tingkat global.

2 hours ago
4
















































