REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Program penghijauan raksasa China kembali menarik perhatian setelah penelitian terbaru menemukan hutan tanaman di negara itu mengalami peningkatan luas daun 65,8 persen lebih cepat dibandingkan hutan alami. Temuan tersebut memperlihatkan kemampuan Beijing mempercepat pemulihan tutupan vegetasi melalui pemilihan jenis pohon, pengelolaan intensif, dan penggunaan teknologi kehutanan.
Namun, angka 65,8 persen itu perlu dibaca secara hati-hati. Angka tersebut tidak berarti batang pohon, volume kayu, ataupun cadangan karbon hutan buatan otomatis tumbuh 65,8 persen lebih cepat. Penelitian mengukur perubahan leaf area index (LAI), yaitu luas permukaan daun relatif terhadap luas tanah yang menjadi salah satu indikator kerapatan tajuk dan kemampuan fotosintesis hutan.
Penelitian yang dipimpin Yuhang Luo dari Sekolah Perencanaan dan Desain Perkotaan, Shenzhen Graduate School, Universitas Peking, itu diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters pada 2026. Tim peneliti menggunakan data satelit, pemodelan pembelajaran mesin, dan pencocokan kondisi lingkungan untuk membandingkan hutan tanaman dengan hutan yang beregenerasi secara alami.
Setelah umur pohon dan kondisi pertumbuhan dibuat sebanding, selisih laju kenaikan luas daun menyusut drastis menjadi sekitar 4,6 persen. Artinya, sebagian besar keunggulan 65,8 persen muncul karena hutan tanaman China rata-rata masih lebih muda daripada hutan alami. Pohon muda umumnya menambah daun dan biomassa lebih cepat daripada pohon yang telah matang.
Temuan itu sekaligus mengoreksi narasi bahwa hutan buatan selalu lebih produktif secara ekologis daripada hutan alami. LAI merupakan indikator penting, tetapi tidak menangkap seluruh karbon yang tersimpan dalam batang, akar, kulit kayu, kayu mati, dan tanah.
Pohon Dipilih, Dipupuk, dan Dipantau
Hutan tanaman dapat tumbuh lebih cepat karena manusia menentukan hampir seluruh proses pembentukannya. Pengelola memilih spesies yang memiliki laju pertumbuhan tinggi, mengatur jarak tanam, melakukan penjarangan, mengendalikan tumbuhan pesaing, memupuk tanah, serta menangani hama dan penyakit.
Jenis seperti eukaliptus dan poplar banyak digunakan untuk menghasilkan kayu dan mempercepat pembentukan tajuk. Pengelolaan tersebut mengurangi persaingan antartanaman dalam memperoleh cahaya, air, dan unsur hara sehingga pohon dapat merespons kenaikan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dengan lebih cepat.
Akan tetapi, keuntungan itu tidak berlangsung tanpa batas. Penelitian Luo menemukan respons tambahan hutan tanaman terhadap karbon dioksida mencapai puncaknya ketika pepohonan berusia sekitar 30 hingga 40 tahun. Setelah melewati usia 40 tahun, keunggulan pertumbuhannya menurun secara nyata.
Hutan alami tumbuh lebih lambat, tetapi memiliki struktur umur, jenis tumbuhan, mikroorganisme, akar, serta lapisan tanah yang lebih kompleks. Ekosistem tersebut umumnya lebih stabil dalam menyimpan karbon, menopang keanekaragaman hayati, dan menghadapi perubahan iklim dalam jangka panjang.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Communications Earth & Environment pada 2025 bahkan menemukan bahwa pada umur yang sebanding, hutan muda yang beregenerasi secara alami di China mempunyai laju akumulasi karbon di atas permukaan tanah lebih tinggi daripada hutan tanaman muda. Studi itu memperkirakan cadangan karbon hutan tanaman tersebut dapat berada di bawah hutan alami pada 2060.
sumber : Xinhua

2 hours ago
5
















































