Menikmati Jakarta dari Atas Bus, Cara Pemprov DKI Hidupkan Wisata Kota

1 hour ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jejak lama Jakarta kini dapat dinikmati dari lantai atas bus terbuka. Dari Sarinah, perjalanan bergerak menuju Kota Tua, melewati kawasan yang menyimpan lapisan sejarah Batavia sekaligus memperlihatkan perubahan wajah ibu kota.

Pengalaman tersebut dihadirkan melalui Open Top Tour of Jakarta rute Jakarta Batavia yang diresmikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno di kawasan Kali Besar, Kota Tua, Jakarta Barat, Kamis (23/7/2026).

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, layanan itu tidak hanya menambah pilihan perjalanan wisata. Bus Transjakarta juga ditempatkan sebagai bagian dari strategi menghidupkan kawasan bersejarah, memperpanjang aktivitas wisatawan, dan membuka peluang ekonomi di sepanjang rute.

“Melalui Open Top Tour, masyarakat dan wisatawan dapat menikmati sisi modern, sejarah, budaya, hingga perkembangan Jakarta dalam satu layanan yang mendukung visi Jakarta sebagai kota global yang berbudaya,” kata Rano.

Rute Jakarta Batavia beroperasi tiga kali sehari, yakni pukul 16.00, 18.30, dan 20.30 WIB. Tiket seharga Rp75 ribu dapat dibeli melalui aplikasi TJ: Transjakarta. Perjalanan membawa penumpang dari Sarinah menuju kawasan Kota Tua.

Kehadiran rute baru itu membuat Transjakarta kini memiliki empat layanan Open Top Tour. Selain Jakarta Batavia, terdapat Jakarta Skyline yang menampilkan panorama Sudirman–MH Thamrin, Jakarta Heritage yang melintasi kawasan dan bangunan bersejarah, serta Jakarta Explorer yang memperkenalkan berbagai ikon kota.

Empat rute tersebut memperlihatkan arah baru pemanfaatan transportasi publik. Bus tidak lagi hanya membawa penumpang dari satu titik ke titik lain, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah, arsitektur, dan identitas kota.

Menghidupkan Kembali Cerita Batavia

Pemilihan jalur Sarinah–Kota Tua menempatkan Jakarta Batavia sebagai penghubung dua wajah kota. Sarinah mewakili pusat komersial dan perkembangan Jakarta modern, sedangkan Kota Tua menyimpan bangunan serta ruang yang menjadi bagian dari perjalanan panjang ibu kota.

Rano berharap perjalanan tersebut dapat membuat masyarakat tidak hanya melihat gedung dan jalan, tetapi juga memahami cerita yang melatarbelakanginya.

Kebijakan ini sekaligus diarahkan untuk menghidupkan aktivitas di kawasan yang dilalui. Ketika wisatawan datang dan tinggal lebih lama, dampaknya diharapkan menjangkau pelaku UMKM, usaha kuliner, pemandu wisata, pekerja seni, dan industri kreatif.

“Saya yakin animonya akan besar, apalagi kalau nanti Harmoni sudah bagus jalannya. Kemudian kita juga akan revitalisasi sungai Kali Harmoni dengan suasana yang bagus dan taman, pasti akan berbeda, tapi memang butuh waktu yang cukup panjang,” ujar Rano.

Pemprov DKI menilai penguatan atraksi budaya mulai memberi dampak terhadap sektor pariwisata. Rano menyebut perjalanan wisatawan nusantara pada Mei 2026 meningkat 6,97 persen menjadi 8,82 juta, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara naik 8,17 persen menjadi 1,04 juta. Angka tersebut disampaikan Pemprov DKI dalam peluncuran layanan Jakarta Batavia.

“Berbagai inisiatif budaya kami hadirkan untuk menarik minat wisatawan sekaligus memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi masyarakat,” kata Rano.

Bersantap Keliling Kota

Bersamaan dengan peluncuran Jakarta Batavia, Pemprov DKI memulai uji coba Open Dining of Jakarta. Layanan tersebut menggabungkan perjalanan mengelilingi kota dengan pengalaman bersantap di dalam bus.

Rutenya bergerak dari Jalan Kali Besar Barat menuju Bundaran Hotel Indonesia. Layanan itu dijadwalkan dibuka untuk umum pada 1 Agustus 2026, dengan pemesanan tersedia sejak 25 Juli melalui aplikasi TJ: Transjakarta yang bekerja sama dengan Klook.

Bus Open Dining memiliki kapasitas 30 penumpang dan direncanakan beroperasi dua hingga tiga kali sehari. Tarifnya Rp500 ribu per orang, termasuk hidangan pembuka, hidangan utama, pencuci mulut, pertunjukan biola secara langsung, serta narasi mengenai sejarah kawasan dan cerita di balik menu.

Layanan tersebut juga dapat digunakan untuk perjalanan kelompok maupun acara khusus. Dengan konsep itu, Pemprov DKI berupaya menghadirkan wisata kota yang tidak hanya mengandalkan destinasi, tetapi juga pengalaman selama perjalanan.

“Open Dining ini masih dalam tahap uji coba. Kami berharap masyarakat dapat menikmati Jakarta dari perspektif yang berbeda, bukan hanya melihat kotanya, tetapi juga mengenal sejarah, budaya, dan identitasnya,” ujar Rano.

Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan unsur sejarah tetap menjadi bagian penting dalam layanan tersebut. Karena itu, perjalanan tidak berhenti pada sajian makanan dan hiburan.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah ini tidak hanya sekadar makan, tapi juga ada cerita sejarah tempat-tempat yang dilintasi,” kata Welfizon.

Read Entire Article
Politics | | | |