Jejak Keabadian: Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti

2 hours ago 5

Oleh : Nur Hadi Ihsan Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kalimat ini, meski singkat, menyentuh inti pertanyaan paling tua dalam sejarah manusia: untuk apa hidup dijalani? Pertanyaan yang tidak hanya menggelisahkan para sufi di ruang-ruang khalwat, tetapi juga para filsuf di aula akademi dan para pemikir di persimpangan peradaban.

Di Gontor, kalimat ini tidak berdiri sebagai slogan moral, melainkan sebagai prinsip eksistensial, ditanamkan melalui disiplin, diuji oleh waktu, dan diarahkan menuju tanggung jawab.

Makna hidup, sebagaimana disiratkan ungkapan ini, bukanlah soal panjang usia, tetapi soal bobot nilai. Sebuah pandangan yang sejalan dengan peringatan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, bahwa umur manusia diukur bukan dengan hitungan tahun, tetapi dengan kesadaran dan amal yang menghidupinya. Hidup yang kosong dari makna, bagi al-Ghazali, adalah hidup yang sebenarnya telah mati sebelum ajal menjemput.

Makna Sebagai Laku, Bukan Sekadar Pikir

Banyak manusia mencari makna hidup melalui perenungan intelektual semata. Namun para ulama besar sepakat bahwa makna tidak cukup dipikirkan; ia harus dijalani. Ibn Miskawaih dalam Tahdhib al-Akhlaq menegaskan bahwa kebajikan bukanlah pengetahuan abstrak, melainkan kebiasaan jiwa yang dibentuk melalui latihan dan disiplin. Pandangan ini menemukan resonansinya dalam tradisi pendidikan Gontor; makna hidup tidak diajarkan lewat definisi, tetapi ditanamkan lewat pembiasaan dan penciptaan lingkungan (conditioning).

Di sini, hidup yang berarti lahir dari kesediaan menundukkan ego, dari keberanian menerima keterbatasan, dan dari keikhlasan menjalani peran tanpa menuntut pengakuan. Sebuah sikap yang oleh para sufi disebut mujahadah, dan oleh al-Junaid dipahami sebagai “perjalanan sunyi dari diri menuju kebenaran.”

Antara Tujuan dan Nilai

Pendidikan modern seringkali menjadikan keberhasilan sebagai tujuan akhir. Namun Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan, dalam Islam and Secularism, bahwa krisis manusia modern terletak pada hilangnya adab—ketika tujuan dipisahkan dari nilai. Hidup menjadi sibuk, tetapi kehilangan arah. Prestasi dicapai, tetapi tidak selalu bermakna.

Gontor, dalam hal ini, lebih dekat dengan pandangan Malik Bennabi dalam Syuruth al-Nahdlah," bahwa kebangkitan manusia tidak ditentukan oleh kemajuan materi semata, melainkan oleh kualitas manusia yang mampu memberi makna pada perannya dalam sejarah. Maka hidup yang berarti bukanlah hidup yang paling menonjol, tetapi hidup yang paling siap memikul amanah.

Kesunyian Sebagai Ruang Pertumbuhan

Para sufi sejak awal memahami bahwa makna sering lahir dari kesunyian. Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi menggambarkan manusia sebagai seruling bambu: justru karena ia dilubangi, ia mampu mengalunkan nada. Kekosongan ego membuka ruang bagi makna. Prinsip ini tercermin dalam kehidupan pesantren, di mana kerja-kerja paling penting sering berlangsung tanpa sorotan.

Pandangan serupa juga muncul dalam filsafat Barat. Martin Heidegger, dalam Being and Time, menegaskan bahwa manusia yang otentik adalah mereka yang sadar akan keterbatasan waktunya dan karenanya hidup dengan kesungguhan. Kesadaran akan kefanaan justru melahirkan tanggung jawab eksistensial. Hidup sekali, karena itu, menuntut kesadaran penuh—bukan pelarian.

Waktu Sebagai Amanah

Dalam khazanah Islam, waktu bukan sekadar aliran detik, tetapi amanah ilahiah. Al-Qur’an sendiri bersumpah atas waktu. Para ulama, seperti Imam al-Syafi‘i, menegaskan bahwa siapa yang tidak menggunakan waktunya, akan digunakan oleh waktu. Perspektif ini sejalan dengan pemikiran Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, bahwa manusia menemukan makna hidupnya bukan dengan menghindari penderitaan atau keterbatasan, tetapi dengan memberi makna atasnya.

Di Gontor, hidup sekali tidak dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas, tetapi sebagai panggilan untuk hidup dengan kesadaran, disiplin, dan arah. Usia adalah ladang, bukan hiasan. Waktu adalah titipan, bukan milik.

Gema Kebijaksanaan

Pada akhirnya, “hidup sekali, hiduplah yang berarti” adalah gema dari kebijaksanaan lintas zaman dan peradaban. Ia menyatukan suara para sufi, filsuf, dan pendidik besar: bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang berorientasi pada nilai, dijalani dengan kesadaran, dan diarahkan pada pengabdian.

Gontor, dalam tradisinya yang khas, tidak menjanjikan hidup yang mudah, tetapi menyiapkan hidup yang bernilai. Ketika kelak usia menutup pintunya, yang tersisa bukan sekadar catatan prestasi, melainkan ketenangan batin—bahwa hidup yang singkat ini telah dijalani dengan adab, tanggung jawab, dan kesetiaan pada makna.

Hidup memang hanya sekali. Namun ketika ia dijalani sebagai amanah, ia meninggalkan jejak keabadian.

Mantingan, 28 Januari 2026

Read Entire Article
Politics | | | |