REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu keamanan pangan tidak hanya berkutat pada bahan baku dan proses memasak. Peralatan makan yang bersentuhan langsung dengan makanan juga memegang peranan penting dalam menjaga kualitas serta kesehatan konsumen. Salah satu yang kerap luput dari perhatian adalah sumpit bambu sekali pakai yang banyak digunakan di berbagai usaha kuliner.
Sekilas, sumpit bambu tampak seragam. Bentuknya ramping, berwarna terang, dan dibungkus plastik atau kertas. Namun di balik tampilan yang terlihat sama, terdapat faktor teknis yang menentukan mutu sebenarnya, yakni tingkat kelembaban atau kadar air pada bambu.
Kadar air tidak dapat dinilai hanya dari tampilan visual. Untuk mengukurnya secara akurat, digunakan alat bernama moisture meter, yakni perangkat yang bekerja dengan menusukkan jarum sensor ke dalam serat bambu untuk mengetahui persentase kandungan air di dalamnya.
Sejumlah ahli keamanan pangan menjelaskan bahwa kadar air berpengaruh terhadap aroma, daya tahan, hingga potensi pertumbuhan mikroorganisme. Semakin tinggi kelembaban, semakin besar risiko munculnya bau apek, jamur, dan bakteri yang dapat memengaruhi standar kebersihan makanan.
Di pasaran, masih banyak beredar sumpit bambu dengan tingkat kelembaban 2–5 persen atau bahkan lebih. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena kelembaban dapat memicu aroma kayu yang mengganggu cita rasa makanan. Selain itu, lingkungan yang lembab menjadi medium ideal bagi pertumbuhan jamur dan bakteri.
Direktur Trifinity, Suwito, menjelaskan bahwa kadar air menjadi perhatian utama dalam proses produksi sumpit bambu. Menurutnya, perbedaan kadar air kerap tidak terlihat secara kasat mata, padahal faktor tersebut menentukan aspek keamanan dan kualitas saat digunakan.
“Sering kali sumpit terlihat sama, tetapi kadar airnya berbeda. Padahal faktor ini menentukan keamanan dan kualitas saat digunakan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, produknya diproses hingga mencapai standar kelembaban 0–1 persen untuk memastikan kualitas lebih terjaga.
“Kami memastikan setiap sumpit benar-benar kering dengan tingkat kelembaban 0–1 persen agar bebas bau, tidak berjamur, dan aman untuk penyimpanan jangka panjang,” katanya.
Menurut Suwito, proses pengeringan optimal juga berdampak pada tekstur dan tampilan produk. Permukaan sumpit menjadi lebih halus, cerah, dan tidak berbulu sehingga meminimalkan risiko serpihan yang dapat melukai pengguna.
“Dengan kadar air sangat rendah, permukaan sumpit menjadi lebih halus, cerah, dan tidak berbulu sehingga tidak ada serpihan yang berisiko melukai pengguna,” tambahnya.
Perusahaan tersebut menilai perbedaan harga antara sumpit curah biasa dan sumpit dengan pengeringan maksimal seharusnya dipandang sebagai pertimbangan kualitas jangka panjang. Sumpit dengan kelembaban tinggi memang lebih murah, tetapi berisiko mengalami kerusakan saat disimpan dalam jumlah besar.
Sebagai langkah pencegahan, pelaku usaha kuliner disarankan memilih sumpit yang berwarna cerah, tidak berbau, serta memiliki kadar air rendah. Standar ini dinilai penting untuk menjaga reputasi usaha sekaligus memastikan pengalaman makan tetap higienis. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan, detail teknis seperti kadar air pada sumpit bambu menjadi faktor yang semakin relevan untuk diperhatikan.

3 hours ago
7















































