Kaleidoskop Sepak Bola Internasional 2025: Tahun Ditahbiskannya Bintang danJuara Baru

3 weeks ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sepak bola dunia pada 2025 tidak bergerak dalam garis lurus. Ia berdenyut, berbelok, dan pada banyak momen seolah berhenti sejenak sebelum akhirnya melaju ke arah yang baru. Tahun ini menjadi persimpangan penting, ketika generasi lama perlahan melepaskan panggung, sementara wajah-wajah muda mengambil alih sorotan tanpa rasa ragu.

Di berbagai belahan dunia, perubahan itu hadir dalam beragam bentuk. Rekor individu terpecahkan, dominasi klub mapan mulai digugat, dan peta kekuatan global menunjukkan pergeseran yang semakin nyata. Sepak bola tak lagi hanya soal siapa pemegang sejarah dan kekuatan tradisional, melainkan siapa yang paling adaptif membaca zaman, teknologi, dan tuntutan permainan modern.

Kaleidoskop sepak bola internasional 2025 merangkum potongan-potongan momen yang membentuk narasi besar tersebut. Dari gegap gempita stadion hingga ruang sidang, dari kejutan di lapangan hijau hingga keputusan strategis di balik layar kami sajikan secara ringkas dalam kaleidoskop sepak bola dunia 2025.

Januari: Lamine Yamal dan Simbol Pergantian Generasi

Tahun 2025 dibuka dengan lahirnya simbol paling nyata dari pergantian generasi sepak bola dunia. Lamine Yamal mencatat sejarah sebagai pemain termuda yang masuk dalam daftar FIFA FIFPRO World 11. Pada usia yang masih belia, ia bukan lagi sekadar prospek, melainkan realitas baru sepak bola elite.

Barcelona kemudian mengikat Yamal dengan kontrak jangka panjang disertai klausul rilis fantastis senilai 1 miliar euro atau sekitar Rp 19,7 triliun. Angka itu bukan hanya perlindungan aset, melainkan pesan simbolik bahwa dunia sepak bola telah menemukan ikon barunya. Media global menyebut Yamal sebagai pewaris era Lionel Messi. Bukan sebagai bayangan, tapi sosok dirinya yang berbeda dari sang idola.

Februari: Bayang-bayang skandal Manchester City

Sepak bola Inggris memasuki fase paling sensitif dalam sejarah Liga Primer modern. Kasus dugaan 115 pelanggaran finansial Manchester City mendekati tahap krusial. Setiap perkembangan persidangan memicu perdebatan luas, dari ruang redaksi hingga media sosial.

Isu ini melampaui sekadar nasib satu klub. Liga Primer dipertanyakan sebagai institusi soal keadilan kompetisi, kredibilitas regulasi, dan makna prestasi di era kapital besar. Februari menjadi bulan ketika sepak bola Inggris lebih sering dibicarakan di luar lapangan ketimbang di atas rumput hijau.

Read Entire Article
Politics | | | |