Kejagung Pamer Triliuan Uang Sitaan, Lima: Itu Pendidikan Antikorupsi dan Transparansi

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti, mengaku tidak kaget dengan temuan survei Indikator Politik yang menyebut masyarakat mayoritas suka dengan langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) mengekspose dan mempertontonkan besar uang korupsi yang disita dan dikembalikan ke negara. Langkah Kejagung ini merupakan bentuk transparansi dan pendidikan antikorupsi kepada masyarakat.

Survei terbaru Indikator Politik Indonesia, menyebutkan, langkah Kejagung menunjukkan tumpukan uang tunai hasil sitaan kasus korupsi senilai Rp 6,6 triliun mendapat dukungan luas dari masyarakat. Sebanyak 70,7 persen menyatakan setuju dan sangat setuju dengan langkah tersebut.

Ray Rangkuti mengaku tidak kaget dengan temuan survei Indikator Politik tersebut. “Tidak ada yang aneh tentang kesukaan masyarakat ini. Karena ini mereka merasa menjadi tahu tentang korupsi itu sebanyak apa,” kata Ray Rangkuti.

Dijelaskannya, ekspose uang triliunan hasil sitaan kejahatan korupsi justru merupakan bentuk transparansi dalam penangan korupsi. “Cuma betul, jangan sampai ekspose ini meninggalkan substansi penegakkan hukum. Tapi jangan juga mengejar substansi tapi hal-hal seperti ini (ekspose ke publik) ditinggalkan,” ungkapnya.

Langkah Kejagung dengan ekspose hasil sitaan korupsi, menurut Ray, merupakan bentuk pendidikan antikorupsi dan politik kepada masyarakat. “Bahkan sekaligus mengajakak masyarakat untuk peduli dengan pemeberantasan korupsi,” jelas aktivis antikorupsi senior ini.

Selama ini, lanjut Ray Rangkuti, kesulitan menjelaskan bahayanya korupsi ke publik adalah besaran uangnya tidak kelihatan. “Kalau orang nyuri ayam kan orang tahu dan bisa membayangkan. Atau kalau orang kehilangan motor, tahu dan bisa merasakan sendiri,” ujar Ray.

Berbeda dengan korupsi miliaran bahkan triliunan rupiah. Selain orang tidak bisa membayangkan besarannya seperti apa, mereka juga merasa uang itu bukan milik mereka. Uang itu dianggap uang negara yang bukan milik mereka secara langsung. Padahal uang tersebut adalah uang milik mereka juga.

“Itu yang membuat orang tidak peka dengan gerakan antikorupsi, karena menganggap bukan uang mereka. Dianggap itu duit negara bukan duit mereka,” ungkap Ray.

Dengan diperlihatkan uang tersebut melalui ekspose, menurut Ray, masyarakat jadi tahu sebanyak apa uang Rp.6,6 triliun tersebut. “Sebelumnya mereka kan tidak bisa membayangkan sebanyak apa itu uang Rp.6,6 triliun karena mereka tidak pernah melihat. Kalau dipertontonkan baru mereka tahu, oh sebanyak itu,” jelas dia.

Bahkan, Ray menyarankan agar penjelasan besaran korupsi ke publik disampaikan dengan difaktualkan. Misalnya, uang sebesar Rp. 1 miliar itu bisa digunakan untuk membeli berapa ton beras,” kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |