REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Apa yang diyakini seorang hamba tentang janji Allah SWT akan tercermin dalam sikap hidupnya. Rabi‘ah al-Adawiyah meneladankan keyakinan itu melalui keberanian bersedekah, bahkan ketika dirinya sendiri dan tamunya sedang lapar.
Allah SWT menjanjikan balasan berlipat ganda bagi siapa pun yang bersedekah di jalan-Nya. Janji inilah yang dipegang teguh oleh Rabi‘ah al-Adawiyah, hingga membuatnya mantap mendahulukan seorang pengemis daripada tamu-tamunya sendiri.
Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, dua orang pemuka agama dalam keadaan lapar datang mengunjungi Rabi‘ah.
“Mudah-mudahan Rabi‘ah akan menyuguhkan makanan kepada kita. Makanan yang disuguhkan Rabi‘ah pasti diperolehnya secara halal,” kata pemuka agama tersebut.
Ketika dua pemuka agama itu duduk bersama Rabi'ah, di hadapan mereka telah terhampar serbet dan di atasnya terdapat dua potong roti. Melihat hal itu, mereka sangat gembira.
Namun, pada saat yang sama seorang pengemis datang ke hadapan mereka. Rabi‘ah pun memberikan dua potong roti tersebut kepada pengemis.
Kedua pemuka agama itu merasa sangat kecewa tidak jadi memakan roti, tetapi mereka tidak berkata apa-apa dihadapan Rabi'ah.
Tidak berselang lama, masuklah seorang pelayan wanita yang membawakan beberapa buah roti yang masih panas kepada Rabi'ah.
"Majikanku telah menyuruhku untuk mengantarkan roti-roti ini kepadamu,” kata si pelayan kepada Rabi'ah.
Rabi‘ah menghitung roti-roti tersebut, jumlahnya ada 18 buah.
"Mungkin roti-roti ini bukan untukku,” kata Rabi‘ah.
Si pelayan berusaha meyakinkan Rabi‘ah, tetapi sia-sia. Akhirnya roti-roti itu dibawa kembali oleh si pelayan.
Sebenarnya, yang telah terjadi adalah pelayan tersebut mengambil dua potong roti untuk dirinya sendiri sehingga tersisa 18 roti. Kepada nyonya majikannya, ia meminta dua potong roti lagi, lalu kembali ke tempat Rabi‘ah.
Roti-roti itu kembali dihitung oleh Rabi‘ah, dan ternyata jumlahnya genap 20 buah. Barulah setelah itu Rabi‘ah menerimanya.
“Roti-roti ini memang telah dikirimkan oleh majikanmu untukku?” tanya Rabi‘ah kepada si pelayan.
Kemudian Rabi‘ah menyuguhkan roti-roti tersebut kepada kedua tamunya tadi. Akhiranya dua pemuka agama itu makan, namun masih dalam keadaan heran.
“Apa rahasia di balik semua ini?” tanya dua pemuka agama tersebut kepada Rabi‘ah.
“Kami ingin memakan roti milikmu sendiri, tetapi engkau memberikannya kepada seorang pengemis. Kemudian engkau mengatakan kepada si pelayan bahwa 18 roti itu bukan dimaksudkan untukmu. Namun, ketika jumlahnya menjadi 20 buah, barulah engkau mau menerimanya,” kata pemuka agama tersebut.
Yakin kepada Janji Allah SWT
Rabi‘ah menjawab, “Ketika kalian datang, aku tahu bahwa kalian sedang lapar. Aku berkata kepada diriku sendiri, betapa aku tega menyuguhkan hanya dua potong roti kepada dua orang pemuka yang terhormat. Itulah sebabnya, ketika si pengemis datang, aku segera memberikan dua potong roti itu kepadanya, seraya berkata kepada Allah Yang Maha Besar: Ya Allah, Engkau telah berjanji akan memberikan ganjaran sepuluh kali lipat, dan janji-Mu itu kupegang teguh. Kini telah kusedekahkan dua potong roti demi menyenangkan-Mu. Semoga Engkau berkenan memberikan 20 potong sebagai imbalannya'."
"Ketika 18 roti itu diantarkan kepadaku, aku tahu bahwa sebagian darinya telah dicuri atau bahwa roti-roti itu memang bukan untuk disampaikan kepadaku,” kata Rabi'ah.

1 week ago
17















































