loading...
Analis menilai ambisi ekspor senjata China terhambat oleh masalah kualitas dan krisis internal Beijing. Foto/Air Power Asia
JAKARTA - Ambisi China untuk memperluas pengaruh sebagai eksportir senjata global dinilai menghadapi tantangan yang semakin besar dalam beberapa tahun ke depan.
Meski berhasil membangun pasar yang relatif stabil di sejumlah negara, berbagai persoalan mulai dari performa alat utama sistem senjata (alutsista) di medan operasi, meningkatnya pengawasan Barat, hingga krisis internal industri pertahanan China berpotensi membatasi ekspansi Beijing dalam jangka pendek hingga menengah.
Baca Juga: Parahnya Korupsi Militer China: Rudal-rudal Diisi Air, Bukan Bahan Bakar
Anushka Saxena, analis dari Takshashila Institution, mengatakan bahwa China selama satu dekade terakhir berhasil menciptakan basis pelanggan yang bergantung pada produk pertahanannya. Pakistan, misalnya, memperoleh sekitar 80 persen impor persenjataannya dari China, disusul Serbia sebesar 61 persen, Thailand 49 persen, dan Aljazair 27 persen.
Selain memasok berbagai sistem persenjataan berat maupun ringan ke sedikitnya 16 negara sepanjang 2015-2025, China juga disebut telah menjual ribuan rudal kepada Pakistan pada periode yang sama.
Meski demikian, Anushka menilai keberhasilan membangun pasar tersebut belum menjamin China mampu memperluas pangsa ekspor senjatanya.
"Apakah Beijing dapat mengubah pelanggan yang sudah ada menjadi pasar yang lebih luas bergantung bukan pada daya saing harga produknya, melainkan pada kemampuannya mengatasi berbagai persoalan sistemik," ucapnya, seperti dikutip dari The National Interest, Jumat (24/7/2026).
Dia menilai terdapat tiga tantangan utama yang saat ini membayangi industri pertahanan China, yakni rekam jejak performa persenjataan di lapangan, meningkatnya tekanan regulasi dari negara-negara Barat, serta krisis kelembagaan yang melanda industri pertahanan dalam negeri.
Menurut Anushka, salah satu persoalan yang paling banyak memengaruhi persepsi terhadap produk pertahanan China adalah performanya ketika digunakan oleh negara pembeli.
Dia mencontohkan insiden pada Desember 2025 ketika laras meriam tank VT-4 milik Angkatan Darat Thailand dilaporkan meledak saat latihan menembak di perbatasan Kamboja hingga melukai seluruh awak kendaraan.
Kasus lain juga disebut terjadi di Nigeria, di mana tank VT-4 dilaporkan memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mendinginkan kubah meriam sebelum kembali digunakan dalam pertempuran.
Strategi Geopolitik China
Sementara itu, Kenya disebut menemukan kendaraan lapis baja VN-4 tidak mampu memberikan perlindungan memadai terhadap serangan roket antitank atau rocket-propelled grenade (RPG).
Anushka menyebut tantangan serupa juga terlihat pada sistem nirawak buatan China.

















































