loading...
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir bergabung dengan lebih dari 4.000 massa Yahudi menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Foto/Anadolu
YERUSALEM - Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir bergabung dengan lebih dari 4.000 massa Yahudi menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada hari Kamis. Penyerbuan situs suci umat Islam ini di bawah perlindungan pasukan polisi Zionis Israel.
Polisi juga mengizinkan massa menggelar ritual doa Yahudi di kompleks tersebut, sebuah pelanggaran paling signifikan terhadap status quo situs suci itu sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967.
Baca Juga: Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Massa Yahudi memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa selama hari puasa Yahudi; Tisha B'Av.
Berbicara kepada The New Arab (TNA), Jumat (24/7/2026), Ismail Patel, pendiri dan ketua Friends of Al-Aqsa, mengatakan tindakan tersebut melampaui pelanggaran tahun-tahun sebelumnya, di mana polisi mengizinkan jemaah Yahudi untuk berdoa dengan lantang, bernyanyi, bersujud, dan mengenakan tefillin di berbagai area kompleks.
"Apa yang diizinkan polisi Israel hari ini tidak memiliki preseden sejak tahun 1967," kata Patel.
"Selama beberapa dekade aturannya sederhana: kunjungan diperbolehkan, doa dilarang. Aturan itu sekarang sudah mati dalam praktiknya. Ini bukan pergeseran. Ini adalah penghancuran sosial-politik, yang dilakukan di siang hari, di bawah perlindungan polisi, dengan seorang menteri yang sedang menjabat memimpinnya," paparnya.
Menurut laporan Haaretz, polisi Israel mengizinkan massa Yahudi untuk melakukan ritual keagamaan di beberapa bagian kompleks, termasuk area di mana praktik tersebut sebelumnya dibatasi.

















































