Presiden Donald Trump didampingi Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth berbicara soal serangan ke Iran, Ahad (22/6/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Rabu (28/1), mengakui bahwa perubahan rezim di Iran jauh lebih kompleks daripada upaya baru-baru ini untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Rezim Iran sudah berjalan cukup lama.
"Saya membayangkan itu akan jauh lebih kompleks daripada yang kita gambarkan sekarang, karena Anda berbicara tentang rezim yang telah berkuasa sangat lama," kata Rubio kepada anggota parlemen selama sidang Senat tentang Venezuela.
"Jadi itu akan membutuhkan banyak pemikiran cermat, jika kemungkinan itu terjadi," katanya menambahkan.
Rubio menggambarkan kehadiran militer AS di Timur Tengah terutama sebagai pertahanan. Ada sekitar 30 ribu hingga 40 ribu tentara Amerika yang ditempatkan di delapan atau sembilan fasilitas.
Dia menambahkan bahwa pasukan tersebut berada dalam jangkauan ribuan pesawat tanpa awak (UAV) dari rudal balistik jarak pendek Iran. Karena itu, ia menggarisbawahi perlunya mencegah secara preemptif potensi serangan terhadap tentara Amerika dan sekutu AS di wilayah tersebut.
"Kita harus memiliki kekuatan dan daya yang cukup di kawasan ini, setidaknya sebagai dasar untuk bertahan melawan kemungkinan itu," katanya.
"Kita juga memiliki perjanjian keamanan, rencana pertahanan Israel dan lainnya, yang mengharuskan adanya postur kekuatan di kawasan ini untuk bertahan melawan hal itu," katanya menambahkan
Rubio juga mengatakan rezim di Iran "mungkin lebih lemah" daripada sebelumnya. Ia menuduh Teheran gagal mengatasi keluhan utama para demonstran, yang menurutnya adalah ekonomi. Perekonomian Iran sedang runtuh.
Dia menambahkan bahwa protes akan kembali terjadi di masa depan kecuali pemerintah Iran bersedia berubah atau mundur.
Pernyataan Rubio menyusul perkataan Presiden AS Donald Trump bahwa "armada besar" sedang menuju Iran, dan dia menyatakan harapan bahwa Tehran akan datang ke meja perundingan untuk bernegosiasi dengan Washington.
Iran telah diguncang oleh gelombang protes sejak 28 Desember di Grand Bazaar Tehran, karena depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota.
Para pejabat menuduh AS dan Israel mendukung "perusuh bersenjata" untuk menciptakan dalih bagi intervensi asing dan memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan memicu respons "cepat dan komprehensif".

3 hours ago
4














































