Misteri Tanah Bergerak di Jangli

2 hours ago 4

Oleh: Kamran Dikarma

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sepanjang hidupnya, Slamet Riyadi (46 tahun), sudah tinggal di Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang. Baru kali ini warga Kampung Sekip tersebut melihat fenomena tanah bergerak sedahsyat saat ini dan memorak-porandakan kehidupan warga tempatan.

Saat disambangi Republika, jalan yang melintasi Kampung Sekip sudah dipenuhi retakan dan bergelombang. Bahkan jalan menurun menuju kampung tersebut telah terputus atau ambles. Tak jauh dari titik tersebut, tampak terdapat rumah yang ambruk. 

Slamet mengaku sudah tinggal di Kampung Sekip sejak lahir. Menurut dia, fenomena pergerakan tanah sudah teramati setidaknya sejak dua bulan lalu. Hal itu tampak ketika retakan-retakan mulai muncul di jalanan kampung. "Ini terus berkembang, apalagi ketika ada hujan deras. Retakannya makin lebar dan merembet," ucapnya ketika ditemui Republika, Rabu ini..

Menurut Slamet, sebelum dampak tanah bergerak separah saat ini, ketua RT 07/01 sudah sempat melaporkan fenomena tersebut ke ketua RW. Ketua RW 01 juga telah meninjau kondisi Kampung Sekip. 

Namun Slamet mengaku kurang mengetahui apakah laporan mengenai pergerakan tanah itu diteruskan ke dinas atau instansi berwenang.  Ketika ditemui Republika, Slamet, dibantu warga lainnya secara swadaya, membongkar rumahnya. "Itu sudah tidak layak ditinggali," ujarnya. 

Ia juga merupakan salah satu warga yang terdampak tanah bergerak. Kediamannya masih berdiri, namun rumah berdinding papan kayu dan beratap seng itu akan dibongkar karena sudah tak aman ditinggali. 

Slamet mengungkapkan, retakan pada lantai rumahnya mulai muncul pada Ahad (8/2/2026) dini hari. Hujan lebat telah mengguyur daerah tersebut sejak Sabtu (7/2/2026) sore dan terus berlangsung hingga Ahad pagi. Slamet akhirnya memutuskan mengevakuasi istri dan dua anaknya dari rumah.

"Jadi rumah itu kondisinya sudah tidak karuan. Memang pergerakan tanahnya luar biasa," kata Slamet saat ditemui Republika, Rabu (11/2/2026).

Saat ini Slamet dan keluarganya untuk sementara mengungsi di Musala Al Amin yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Namun Slamet menyebut, ada pula warga terdampak yang memutuskan untuk tinggal sementara di rumah kerabat mereka. 

"Kemarin aliran listrik dan air sempat terputus semua. Tapi sekarang ini sudah diperbaiki," kata Slamet. 

Ketua RT 07/01, Joko Sukaryono (50 tahun), mengungkapkan, dampak tanah bergerak di Kampung Sekip sudah dirasakan setidaknya sejak tiga pekan lalu, yakni ketika bagian dari jalan utama kampung tersebut terputus. "Awal mula ada warga melaporkan bahwa jalan utama di wilayah kita ini putus karena ada pergerakan tanah," ucapnya. 

Karena musim hujan masih berlangsung, pergerakan tanah di Kampung Sekip juga terus terjadi dan semakin parah. "Saat ini ada sepuluh rumah yang terdampak. Satu rumah roboh dan sembilan lainnya mengalami kerusakan atau retakan pada lantai," kata Joko. 

Dia menambahkan, terdapat dua rumah yang dibongkar secara swadaya oleh warga. Selain karena sudah terdampak, pembongkaran dilakukan untuk mengambil material-material yang mungkin masih bisa digunakan.

"Untuk saat ini warga yang terdampak masih bisa tinggal di rumahnya karena memang posko evakuasi belum memenuhi syarat untuk dievakuasi ke posko tersebut. Kita berharap ada bantuan dari pihak terkait yang berencana akan mendirikan tenda untuk evakuasi warga terdampak," ucap Joko. 

Joko mengungkapkan, sejauh ini warga Kampung Sekip baru menerima bantuan dari BPBD Kota Semarang, yakni berupa matras dan terpal untuk keperluan evakuasi serta logistik. Menurut Joko, pihak dari Dinas ESDM Jateng sudah sempat meninjau lokasi terdampak tanah bergerak.

Read Entire Article
Politics | | | |