REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat tren penurunan harga beras secara nasional dalam sebulan terakhir. Data ini muncul di tengah penguatan pengawasan harga pangan pokok strategis yang dilakukan pemerintah terhadap produsen dan distributor skala besar.
Bapanas mengaitkan perbaikan pergerakan harga tersebut dengan penegakan kepatuhan harga eceran tertinggi (HET) yang digencarkan bersama Satuan Tugas Pangan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Langkah ini diarahkan untuk memastikan harga di tingkat konsumen bergerak sesuai acuan pemerintah, terutama pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional.
Panel Harga Pangan Bapanas mencatat, per 30 Desember, harga beras medium di Zona 1 turun dari Rp 13.098 per kilogram menjadi Rp 13.077 per kilogram atau terkoreksi 0,16 persen. Harga beras premium di Zona 1 turun dari Rp 14.845 per kilogram menjadi Rp 14.838 per kilogram atau turun 0,05 persen.
Penurunan yang lebih signifikan terjadi di wilayah timur. Di Zona 3, harga beras medium terkoreksi hingga 1,98 persen dan beras premium turun 1,42 persen dalam periode satu bulan terakhir. Pergerakan ini memperlihatkan pengaruh pengawasan harga yang lebih ketat di daerah dengan tantangan distribusi logistik.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menilai tren penurunan harga tersebut mencerminkan mulai efektifnya penertiban praktik pengambilan keuntungan berlebihan di sektor pangan. Pemerintah menempatkan pengendalian harga sebagai prioritas, terutama saat permintaan masyarakat cenderung meningkat.
“Insya Allah ke depan tidak akan berulang. Itu perintah Bapak Presiden. Kita harus tindak tegas yang coba-coba mengganggu,” kata Amran di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Ia menegaskan stabilitas harga pangan perlu dijaga karena pasokan nasional berada pada level aman. Produksi beras, minyak goreng, dan gula dinilai mencatatkan kinerja positif sehingga fluktuasi harga di tingkat konsumen seharusnya dapat ditekan.
“Kami terus meningkatkan produksi. Sekarang beras dan minyak goreng tidak ada alasan naik. Gula putih juga demikian, produksinya naik,” ucap Amran.
Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi beras nasional 2025 mencapai 34,79 juta ton atau naik 13,6 persen dibandingkan 2024. Produksi minyak kelapa sawit pada 2024 tercatat 45,44 juta ton dengan pangsa ekspor global Indonesia mencapai 48,38 persen, sementara produksi gula nasional 2025 diproyeksikan meningkat menjadi 2,67 juta ton.
Bapanas memastikan pemantauan harga pangan akan terus dilakukan secara aktif dengan turun langsung ke lapangan. Pemerintah menargetkan tren penurunan harga dapat terjaga seiring penguatan produksi dan disiplin pelaku usaha dalam mematuhi regulasi.

3 weeks ago
22















































