REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dua pekan serangan udara tanpa henti telah mengguncang Iran. Rudal-rudal presisi AS dan Israel menghantam fasilitas militer, depot penyimpanan, dan pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun di luar medan tempur, perang lain sedang berlangsung, bakuhantam diplomatik yang justru mempermalukan Amerika Serikat di hadapan sekutu-sekutu terdekatnya.
Ketika Presiden Donald Trump meminta negara-negara NATO dan sekutu lainnya bergabung dalam “koalisi pembuka blokade” di Selat Hormuz, jawaban yang diterima bukan dukungan, melainkan penolakan bertubi-tubi. Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Australia, Korea Selatan, Jepang, dan Yunani. Semuanya berkata tidak. “Ini bukan perang kami,” tegas Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menolak mentah-mentah permintaan Washington.
Perdana Menteri Inggris Starmer menyatakan bahwa “kita tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas” dan menyatakan keinginan mengakhiri konflik secepat mungkin. Prancis, melalui Kementerian Eropa dan Luar Negeri, menegaskan bahwa “Paris hanya memiliki posisi defensif, tidak ada kapal, perang dengan Iran bukanlah perang kami.”
Di tengah kebuntuan diplomatik ini, pertanyaan yang jauh lebih mendasar belum terjawab: untuk apa sebenarnya perang ini diperjuangkan? Frank Gardner, koresponden keamanan BBC yang melaporkan dari Riyadh, memetakan tiga tujuan yang saling bertabrakan dari tiga aktor utama.
Bagi Amerika Serikat, tujuan perang Presiden Trump, menurut Gardner, “agak tidak jelas, tampaknya berfluktuasi antara pembatasan sederhana program nuklir Iran, hingga penyerahan diri terhadap semua tuntutan AS dan Israel, hingga keruntuhan total rezim Republik Islam.”
Dalam dunia ideal Washington, perang ini berakhir dengan runtuhnya kekuasaan para ayatollah, digantikan pemerintahan damai dan demokratis yang tidak lagi mengancam rakyatnya atau negara tetangga. Namun hingga Senin, hal itu belum menunjukkan tanda-tanda akan terjadi. Hasil terbaik berikutnya adalah jika Republik Islam yang rusak parah itu mengubah perilaku: berhenti memperlakukan warganya dengan buruk dan mengakhiri dukungan terhadap milisi radikal di kawasan. Sekali lagi, hal ini tampaknya tidak mungkin terjadi.
Gardner menambahkan, tekanan semakin meningkat pada Trump untuk menghentikan perang ini, tetapi akan sulit baginya menyajikannya sebagai sesuatu selain kegagalan jika rezim Teheran bertahan tanpa rasa takut dan tetap menantang.
Bagi Iran, perang ini adalah soal eksistensi. Teheran ingin perang berhenti secepat mungkin, tetapi bukan dengan harga berapa pun, yaitu bukan jika itu berarti menyerah pada semua tuntutan Washington.

5 hours ago
9
















































