PGEO Siapkan Pasokan Green Hydrogen Ulubelu untuk Dukung Green Terminal Tanjung Sekong

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, CILEGON – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyiapkan pasokan green hydrogen dari Wilayah Kerja Panas Bumi Ulubelu, Lampung, sebagai bagian dari pengembangan ekosistem energi bersih terintegrasi untuk mendukung transformasi Terminal LPG Tanjung Sekong menjadi green terminal.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, pengembangan green hydrogen ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam memperluas pemanfaatan energi panas bumi tidak hanya untuk pembangkitan listrik, tetapi juga sebagai basis produksi energi bersih masa depan.

“Green hydrogen dari area Ulubelu akan menjadi salah satu sumber energi bersih yang mendukung operasional Green Terminal Tanjung Sekong. Ini merupakan bagian dari transformasi energi Pertamina Group sekaligus kontribusi nyata terhadap agenda dekarbonisasi nasional dan global,” ujar Ahmad Yani dalam acara Kick-Off ESG Initiative Green Terminal Tanjung Sekong, Selasa (10/2).

Saat ini, PGEO tengah mengembangkan pilot project green hydrogen di Ulubelu dengan kapasitas produksi 80–100 kilogram per hari. Proyek ini memanfaatkan energi panas bumi sebagai sumber listrik baseload untuk proses elektrolisis, sehingga hidrogen yang dihasilkan memiliki jejak karbon sangat rendah.

Proyek tersebut menggunakan teknologi anion exchange membrane (AEM) electrolyzer dengan efisiensi mencapai sekitar 80%. Ahmad Yani menyebut, inisiatif ini diproyeksikan menjadi yang pertama di dunia dalam produksi green hydrogen berbasis panas bumi.

“Panas bumi memiliki keunggulan sebagai energi terbarukan baseload yang stabil dan andal, beroperasi 24 jam. Ini menjadikannya sangat ideal sebagai sumber energi untuk produksi green hydrogen secara berkelanjutan,” ujarnya.

Pilot project green hydrogen Ulubelu ditargetkan mulai beroperasi pada Triwulan IV 2026, dengan masa uji coba selama tiga tahun sebagai proof of concept sekaligus tahapan menuju commercial readiness. Selama fase ini, PGEO akan melakukan pembelajaran teknis, operasional, keselamatan, serta pengembangan model bisnis green hydrogen di Indonesia.

Dalam pengembangannya, PGEO menggandeng berbagai entitas di lingkungan Pertamina Group untuk membangun ekosistem hidrogen hijau dari hulu ke hilir. Pemanfaatan green hydrogen mencakup sektor mobilitas melalui hydrogen refueling station (HRS), utilisasi industri, serta fuel cell generator sebagai pengganti diesel yang lebih ramah lingkungan.

“Kami menyambut baik sinergi yang telah terbangun antara Pertamina Geothermal Energy, Pertamina Energy Terminal, Elnusa Petrofin, Toyota, serta sektor terkait lainnya. Ini menjadi wujud nyata kolaborasi dalam mencapai target net zero emission 2050,” kata Ahmad Yani.

Pemanfaatan green hydrogen di Terminal LPG Tanjung Sekong diarahkan untuk mendukung operasional terminal, sistem kelistrikan, serta peralatan logistik, sekaligus memperkuat implementasi Green Terminal Label Certification (GTLC) yang tengah dikembangkan Pertamina Energy Terminal.

Selain green hydrogen, PGEO saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang hampir 2.000 megawatt (MW), menjadikan perusahaan sebagai salah satu world leading geothermal energy company. Ke depan, PGEO akan terus mendorong diversifikasi produk berbasis panas bumi guna menciptakan nilai tambah berkelanjutan.

“PGE berkomitmen menjadi enabler utama transisi energi, tidak hanya melalui listrik panas bumi, tetapi juga lewat produk turunannya dan inovasi energi bersih seperti green hydrogen. Dari panas bumi mengalir energi, menopang transisi menuju masa depan. PGE menghasilkan green hydrogen untuk negeri,” tegas Ahmad Yani.

Melalui pasokan green hydrogen dari Ulubelu, Terminal LPG Tanjung Sekong diproyeksikan menjadi model integrasi energi bersih di sektor logistik energi, sekaligus tonggak penting transformasi ESG Pertamina menuju bisnis energi berkelanjutan.

Read Entire Article
Politics | | | |