Pohon Sawit Bukan Hutan, Alih Fungsi Lahan Jadi Biang Keladi Banjir dan Longsor

7 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Alih fungsi hutan alam menjadi perkebunan sawit tidak dapat disamakan dengan menjaga tutupan pohon. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa kebun sawit tidak mampu menggantikan fungsi ekologis hutan dalam menjaga keanekaragaman hayati, keseimbangan hidrologi, serta penyimpanan karbon jangka panjang.

Dalam ekosistem hutan, struktur akar pohon yang kuat dan beragam menahan air hujan di dalam tanah sehingga mampu mengurangi limpasan permukaan yang memicu banjir, erosi, dan longsor. Lapisan kanopi berjenjang menahan intensitas hujan, menjaga kelembaban, dan menurunkan suhu mikro.

Sementara pada kebun sawit, akar serabut yang dangkal hanya menyerap air dalam kapasitas terbatas. Kanopi tunggal membuat air langsung menghantam permukaan tanah dan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap degradasi tanah.

Sejumlah studi memperkuat fakta tersebut. Penelitian hidrologi di Jambi menunjukkan bahwa konversi hutan alam menjadi kebun sawit menurunkan kemampuan tanah menyimpan air dan berdampak pada kualitas air di daerah aliran sungai. Fungsi penahan air melemah, sehingga wilayah yang sebelumnya stabil menjadi lebih rentan terhadap banjir ketika curah hujan tinggi meningkat signifikan dalam waktu singkat.

Kondisi ini selaras dengan temuan bahwa perubahan tutupan lahan merupakan salah satu pemicu utama meningkatnya kejadian banjir di DAS yang sebelumnya berhutan lebat.

Dampak itu kini terlihat jelas di Sumatera. Data Sistem Informasi Monitoring Nasional (NFMS/SIMONTANA) KLHK mencatat bahwa sejak 1990 hingga 2024, tutupan hutan alam di Sumatera terus menyusut akibat ekspansi sawit, pertanian lahan kering, dan hutan tanaman produksi untuk kayu.

Alih fungsi terbesar terjadi pada hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa yang berperan sebagai kawasan resapan air utama di hulu DAS. Pada sebagian besar DAS, tutupan hutan alam kini tersisa kurang dari 25 persen sehingga sistem hidrologi memasuki kondisi kritis.

Kerentanan tersebut tercermin dalam rangkaian bencana hidrometeorologi yang terus meningkat. Banjir bandang di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara pada akhir November 2025 menunjukkan ciri khas degradasi ekosistem: aliran deras membawa material kayu, batu, dan lumpur dalam volume besar dari kawasan hulu yang kehilangan penyangga vegetasi. Pola yang sama muncul berulang di banyak kabupaten/kota lain di Sumatera dalam beberapa tahun terakhir.

Di luar hidrologi, hutan tropis merupakan penyerap karbon jangka panjang. Saat hutan dibuka dan tanah gambut dikeringkan untuk sawit, karbon yang telah tersimpan ratusan tahun dilepas ke atmosfer dan memperburuk pemanasan global. Pada saat yang sama, hilangnya struktur vegetasi berlapis membuat wilayah perkebunan lebih panas dan mempercepat kerusakan tanah.

Konversi lahan juga menurunkan keanekaragaman hayati secara drastis, sebagaimana terlihat dari studi di Papua dan Riau yang mencatat hilangnya habitat flora-fauna endemik setelah hutan berubah menjadi kebun monokultur.

Laporan deforestasi 2024 menunjukkan kehilangan lebih dari 216 ribu hektare tutupan hutan secara nasional dan sebagian besar merupakan hutan sekunder di Sumatera. Meski beberapa area kembali ditanami, keberadaan hutan tanaman produksi tidak mampu mengembalikan fungsi ekologis seperti kemampuan menyimpan air, menjaga kestabilan lereng, atau mempertahankan ekosistem yang seimbang.

Banjir di Sumatera bukan sekadar bencana akibat intensitas hujan ekstrem. Peristiwa tersebut merupakan sinyal rusaknya sistem yang selama ini menjadi benteng keselamatan masyarakat. Selama konversi hutan alam terus terjadi dan blok-blok hutan tersisa semakin terfragmentasi, banjir bandang akan semakin berulang dan destruktif.

Pemulihan ekosistem hulu serta perlindungan ketat kawasan bernilai ekologis tinggi menjadi kunci untuk menjaga Sumatera tetap aman di tengah intensitas cuaca yang kian ekstrem.

Read Entire Article
Politics | | | |