REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ambisi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menuntaskan persoalan sampah terus digencarkan. Di tengah keterbatasan lahan, Pemkot memilih strategi berbasis lingkungan dengan mengandalkan biopori jumbo sebagai solusi pengolahan sampah organik dari sumbernya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan hingga awal 2026, baru sekitar 600 unit biopori jumbo yang terpasang di sejumlah wilayah. Namun Pemkot tidak ingin berhenti di angka tersebut. Pihaknya menargetkan pembangunan total 1.000 biopori jumbo yang akan tersebar merata di berbagai kawasan Kota Yogyakarta.
Setiap biopori jumbo ini memiliki kapasitas besar dalam menampung sampah organik rumah tangga. "Jumlahnya kan sudah 600 lebih. Tapi tahun ini saya akan tambah 400, sehingga tahun ini ada 1.000 biopori jumbo yang seperti tadi (untuk dibangun -Red) ke seluruh wilayah kota," kata Hasto, Sabtu (24/1/2026).
"Satu biopori kapasitasnya bisa sampai 2 ton sampah organik. Bayangkan, kalau kita punya 1.000 titik, berarti ada 2.000 ton sampah yang bisa kita tahan dan diolah di sumbernya. Itu jumlah yang sangat signifikan," ujarnya menambahkan.
Hasto menjelaskan sampah organik yang dimasukkan ke dalam biopori jumbo akan diproses menjadi kompos. Pemkot turut mendukung percepatan proses tersebut dengan penyediaan aktivator serta bantuan tenaga panen yang membutuhkan keahlian khusus.
Lebih dari sekadar menekan volume sampah, biopori jumbo juga diarahkan untuk memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Kompos hasil olahan sampah organik disebutnya memiliki nilai jual dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga.
"Pemerintah membantu memanen dan mempercepat proses kompostingnya. Setelah itu hasil panen bisa dipakai sendiri atau dijual, monggo silakan. Pemerintah tidak mengambil uangnya, sepenuhnya untuk masyarakat," ucapnya.
Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga akan mengintegrasikan program biopori jumbo dengan Integrated Farming Program serta pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO). Pada 2026, tiga sentra UPO disiapkan di sekitar Pasar Pasty, Tegalgendu, dan Tegalrejo.
"Di Tegalgendu dan Tegalrejo itu bisa sekaligus untuk pertanian. Bahkan di Tegalrejo ada sawahnya," katanya.
Salah satu wilayah yang telah merasakan manfaat biopori jumbo adalah Kampung Mangkuyudan, Kelurahan Mantrijeron. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari, Sumarsini, mengatakan pemanfaatan biopori jumbo di RW 05 sudah berjalan sejak 2021. Dari satu unit biopori jumbo, sampah organik yang tertampung bisa mencapai dua ton dengan hasil panen sekitar 550–600 kilogram kompos. Hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas kompos telah memenuhi standar dan aman digunakan untuk pertanian.
"Warga kami sosialisasikan untuk pilah sampah dari rumah. Sampah organik dibuang ke biopori, sedangkan anorganik ke bank sampah," katanya.
"Komposnya hitam seperti tanah, aman digunakan dan tidak meracuni tanaman," ujar dia.
Sampah organik tersebut diolah dengan tambahan tetes tebu dan EM4 untuk mempercepat pembusukan. Setelah sekitar enam bulan, kompos bisa dipanen dan dimanfaatkan sebagai media tanam. Menariknya, kompos hasil biopori jumbo di Mangkuyudan langsung diserap oleh program urban farming warga melalui konsep lorong sayur. Lorong-lorong kampung dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan buah.
"Warga bisa menikmati sayuran hasil panen sendiri, lebih sehat, dan mengurangi pengeluaran rumah tangga," ucap dia.

3 hours ago
6














































