REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dari telur yang melintasi lautan, ke kandang laut yang mengajarkan mereka bertahan hidup, hingga kembali ke perairan yang hampir melupakannya, ini adalah kisah kepulangan hiu zebra ke tanah air mereka yang nyaris punah.
Ada sesuatu yang hilang dari perairan Raja Ampat.
Bukan sekadar kehilangan dalam artian fisik, di mana satu, dua, atau sepuluh individu sirna dari pengamatan. Tapi kehilangan yang lebih dalam. Kehilangan yang membuat sebuah spesies menjadi hantu di rumahnya sendiri.
Hiu zebra, atau Stegostoma tigrinum, dulunya adalah penghuni yang akrab di perairan Papua Barat Daya ini. Mereka berenang di antara 75 persen spesies terumbu karang global yang hidup di jantung Segitiga Terumbu Karang dunia. Mencari makan. Berkembang biak. Menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem yang menjadikan Raja Ampat sebagai surga bawah laut.
Tapi kemudian, manusia datang dengan bom dan jaring.
Selama beberapa tahun terakhir, praktik pengeboman dan perburuan telah menggerogoti populasi hiu yang ditemukan di wilayah Indo-Pasifik ini. Sirip mereka dicari untuk sup. Kulit mereka dijadikan aksesoris. Daging mereka dikonsumsi.
Lembaga konservasi Conservation International mencatat angka yang mencengangkan: dalam 15.000 jam pengamatan terumbu karang selama dua dekade (2001-2021), hanya tiga individu hiu zebra yang terlihat.
Tiga. Dari jutaan hektare perairan.
Para pakar yang terlibat dalam Proyek Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery (StAR) memprakirakan tersisa hanya 20 individu yang tersebar di 6 juta hektare wilayah Kepulauan Raja Ampat. Angka itu menempatkan hiu zebra dalam status yang menyedihkan: dianggap punah secara fungsional di wilayah ini.
Punah secara fungsional berarti mereka masih ada, tapi jumlah mereka terlalu sedikit untuk menjalankan peran ekologis yang seharusnya. Terlalu sedikit untuk berkembang biak secara alami. Terlalu sedikit untuk dikenang oleh generasi mendatang.
Rumah mereka melupakan mereka. Dan generasi baru anak-anak Papua hampir tak pernah mengenal sosok makhluk laut yang elegan ini.
Perempuan Papua yang Mengingat
Yolanda Wamaer tidak ingin membiarkan kepunahan itu terjadi dalam diam.
Perempuan asli Papua ini adalah edukator konservasi di ReShark, salah satu inisiator Proyek StAR. Dari Raja Ampat Research and Conservation Center (RARCC) di Pulau Kri, ia menjadi jembatan antara sains konservasi dan masyarakat lokal, khususnya anak-anak yang akan mewarisi laut ini.
Bagi Yolanda, kehilangan hiu zebra bukan sekadar kehilangan satu spesies. Ini adalah kehilangan narasi. Kehilangan bagian dari identitas laut Papua.
"Bahwa sebelum adanya konservasi, hewan-hewan laut, khususnya hiu di sini, banyak masyarakat yang mengonsumsi," katanya dengan nada yang hati-hati, tanpa menghakimi. "Jadi, kita ingin agar hal-hal demikian tidak berdampak terus ke anak-anak yang masih usia belia. Jadi, harus sebisa mungkin kita edukasikan agar kegiatan tersebut tidak merusak lagi."
sumber : Antara

3 hours ago
4















































