Puncak Musim Hujan Di Depan Mata, BPBD Majalengka Petakan Daerah Rawan Longsor dan Banjir

7 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, MAJALENGKA -- Puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026. Peningkatan curah hujan secara signifikan selama rentang waktu itupun dikhawatirkan berpotensi menimbulkan bencana longsor dan banjir, termasuk di Kabupaten Majalengka.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim mengatakan, pihaknya telah menetapkan status siaga menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi tersebut. Pihaknya juga telah memetakan wilayah yang rawan bencana longsor maupun bencana banjir.

"Memasuki Januari intensitas hujan diperkirakan sudah tinggi. Dan Februari diprediksi meningkat sangat signifikan. Karenanya kita sudah tetapkan masa siaga," ujar Agus, belum lama ini.

Adapun berdasarkan hasil pemetaan terbaru, lokasi rawan longsor di Kabupaten Majalengka terletak di wilayah Kecamatan Lemahsugih, Kecamatan Bantarujeg, Kecamatan Malausma, Kecamatan Cikijing, Kecamatan Cingambul, Kecamatan Banjaran, Kecamatan Maja, Kecamatan Argapura dan Kecamatan Sindang.

Wilayah-wilayah tersebut memiliki kontur tanah labil dan berada di kawasan perbukitan yang rentan mengalami pergerakan tanah saat curah hujan ekstrem.

Sedangkan daerah yang dipetakan rawan banjir di Kabupaten Majalengka adalah Kecamatan Ligung, Kecamatan Jatitujuh, Kecamatan Kertajati dan Kecamatan Kadipaten. Daerah-daerah itu terletak di dataran rendah dan dekat aliran sungai besar.

Dalam menghadapi ancaman potensi bencana itu, BPBD Kabupaten Majalengka pun memperkuat kesiapsiagaan dengan pemanfaatan Early Warning System (EWS) di Bendung Rentang. Alat itu terhubung otomatis ke BPBD dan menjadi alarm yang aktif menandakan potensi kenaikan debit air yang perlu diwaspadai masyarakat.

Selain itu, adapula sensor deteksi dini gempa bumi yang terpasang di Kantor BPBD. Alat tersebut terbukti bekerja optimal mendeteksi gempa yang terjadi di Kecamatan Malausma beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, BPBD Majalengka juga menyiagakan personelnya untuk mengantisipasi kejadian bencana. Ada 15 personel BPBD yang bersiaga setiap hari selama 24 jam. Bahkan jika terjadi kejadian berskala besar, BPBD akan mengerahkan personel cadangan dari total kekuatan 62 personel. "Kesiapsiagaan bukan hanya soal alat, tapi juga kecepatan respons. Karena itu tim kami standby penuh," kata Agus.

BPBD juga telah berkoordinasi dengan Dinas PUTR untuk menyiapkan alat berat apabila terjadi longsor di jalur vital. Selain itu, perahu karet juga telah siap untuk penanganan banjir.

Read Entire Article
Politics | | | |