REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di zaman ketika mushaf tidak lagi hanya hadir di rak kayu, tetapi juga menyala di layar ponsel, Alquran terasa semakin dekat dengan manusia. Terjemahannya dapat dibaca dalam banyak bahasa. Tafsirnya dapat diakses dalam hitungan detik. Ayat-ayatnya dapat didengar dari genggaman tangan, di perjalanan, di ruang kerja, di kamar sunyi, bahkan di tengah riuh dunia digital.
Namun, semakin dekat Alquran secara teknologi, belum tentu semakin dekat ia dengan hati. Semakin mudah manusia membuka ayat, belum tentu semakin sungguh ia membuka dirinya untuk disentuh ayat. Di sinilah muncul pertanyaan yang sangat dalam: jika Alquran kini diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dapat dibaca oleh manusia dari banyak bangsa, mengapa Allah tetap memilih bahasa Arab sebagai bahasa wahyu terakhir?
Pertanyaan ini membawa kita kepada satu nikmat besar yang sering kita baca, tetapi tidak selalu kita sadari. Allah tidak menurunkan Alquran sebagai teks yang gelap, jauh, dan mustahil dipahami manusia. Allah menurunkannya sebagai cahaya yang menjelaskan, sebagai petunjuk yang membimbing, dan sebagai kalam yang dapat direnungi oleh akal serta ditunduki oleh hati.
Firman Allah SWT:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Innā anzalnāhu qur`ānan 'arabiyyal la'allakum ta'qilụn
Artinya:
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya. (QS Yusuf: 2)
Ayat ini turun di awal Surah Yusuf, sebuah surah yang tidak hanya memuat kisah, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang luka, kesabaran, fitnah, kehilangan, penantian, pengampunan, dan kemenangan yang datang setelah perjalanan panjang. Sebelum Allah menceritakan kisah terbaik itu, Allah terlebih dahulu menegaskan bahwa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab agar manusia menggunakan akalnya.
Seakan-akan Allah ingin mengajarkan bahwa kisah Yusuf bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi setiap manusia yang pernah dikhianati, dipisahkan dari orang tercinta, difitnah, disalahpahami, atau dipaksa menunggu jawaban Allah dalam waktu yang panjang. Tetapi sebelum cermin itu dibentangkan, Allah mengingatkan bahwa wahyu ini harus dipahami, bukan hanya dibunyikan.
Di tengah derasnya terjemahan digital Alquran hari ini, pesan QS Yusuf ayat 2 menjadi semakin relevan. Terjemahan adalah jembatan yang sangat berharga bagi manusia yang belum memahami bahasa Arab. Ia membantu seseorang mendekat kepada makna. Ia membuka pintu awal bagi hati yang ingin mengenal petunjuk Allah. Tetapi jembatan tetaplah jembatan. Ia mengantar manusia mendekat, sementara sumber wahyu tetap berada pada lafaz Arab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Maka, terjemahan Alquran tidak seharusnya membuat manusia merasa jauh dari bahasa Arab. Justru sebaliknya, ia menjadi jalan pertama untuk mencintai bahasa wahyu. Seperti seseorang yang melihat cahaya dari balik jendela, lalu hatinya tergerak untuk membuka pintu dan masuk ke dalam rumah yang terang. Terjemahan memperkenalkan cahaya itu, sedangkan bahasa Arab menjaga keutuhan sinarnya.

3 days ago
23









































