Rupiah Masih Tertekan, Pengamat Prediksi Bisa Tembus Rp 17.300 per Dolar AS

2 hours ago 5

Pengamat memprediksi rupiah bisa menembus hingga Rp 17.300 per dolar AS dalam waktu dekat. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan pelemahan pada perdagangan akhir pekan ini akibat dampak eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Pengamat memprediksi rupiah bisa menembus hingga Rp 17.300 per dolar AS dalam waktu dekat.

“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 50 poin di level Rp 17.188 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.138 per dolar AS. Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.180-Rp 17.220 per dolar AS. Sedangkan range untuk sepekan melemah, berada di level Rp 17.150-Rp 17.300 per dolar AS,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (17/4/2026).

Ibrahim menerangkan, ekonomi Indonesia tampak mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia (BI), konsumsi rumah tangga juga relatif solid, bahkan tertopang kuat oleh momentum Ramadan dan Lebaran. Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus berkelanjutan, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit masih memberi bantalan terhadap tekanan global.

“Namun, menginjak akhir kuartal I 2026 tekanan eksternal terjadi. Eskalasi perang AS dan Iran secepat kilat telah membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang menjadi dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” ujar Ibrahim.

Harga minyak Brent tercatat sempat menembus 118 dolar AS per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Walaupun harga minyak mentah naik, pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Transmisi tersebut dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung.

Sebelumnya, pemerintah bertemu dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) di AS dan menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9 persen karena kenaikan harga minyak, diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8 persen terhadap PDB, meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen.

Read Entire Article
Politics | | | |